Pengangguran lulusan muda merupakan permasalahan ketenagakerjaan yang kompleks di Provinsi Banten, salah Satu provinsi di Indonesia memiliki tingkat pengangguran terbuka (TPT) yang paling tinggi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Banten tahun 2026, TPT tercatat sebesar 6,59 persen, mengalami penurunan dari 7,02 persen pada Februari 2024. Meskipun terdapat perbaikan, angka tersebut masih tergolong tinggi, terutama mengingat Banten merupakan kawasan industri besar yang mencakup Kabupaten Serang, Kota Cilegon, dan Kabupaten Tangerang. Penelitian ini memakai metode kualitatif yang menggunakan pendekatan studi literatur untuk menganalisis cara-cara pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM). sebagai solusi dalam mengatasi pengangguran lulusan muda. Kajian didasarkan pada Teori Human Resource Development (HRD) dari Werner dan DeSimone yang mencakup tiga indikator utama, yaitu Pelatihan dan pengembangan, pendidikan, serta pengembangan karier. Fenomena ketidakcocokan keterampilan dikenal sebagai faktor utama yang menghalangi penyerapan tenaga kerja muda. Ini terjadi karena ada perbedaan antara kemampuan yang dimiliki lulusan dengan apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh industri. Strategi pengembangan sumber daya manusia yang disarankan mencakup peningkatan program pelatihan yang berfokus pada kemampuan, memperbarui pendidikan vokasi dengan konsep yang menghubungkan industri dan pendidikan, pengembangan kemampuan digital, sertifikasi untuk tenaga kerja, dan peningkatan layanan bimbingan karier. Pelaksanaan strategi itu memerlukan kerja sama yang baik antara pemerintah daerah, lembaga pendidikan, dan dunia industri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa investasi yang terus-menerus dalam pengembangan sumber daya manusia adalah hal yang sangat penting untuk mengurangi tingkat pengangguran dan meningkatkan daya saing tenaga kerja muda di Provinsi Banten, terutama di zaman transformasi digital ini.