Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Pendidikan Untuk Semua: Membedah Kelas Sosial Dan Akses Belajar di SDN 2 Tabat Yusnadi Yusnadi
Indonesian Journal of Innovation Multidisipliner Research Vol. 4 No. 2 (2026): April - Juni
Publisher : Institute of Advanced Knowledge and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijim.v4i2.1026

Abstract

Penelitian ini melatarbelakangi pentingnya pemenuhan hak belajar universal melalui semangat Education for All (EFA), yang dalam realitasnya masih terbentur hambatan struktural berupa pelapisan kelas sosial ekonomi di tingkat tapak. Di SDN 2 Tabat, pemenuhan keadilan formal belum sepenuhnya menjamin kesetaraan substantif bagi peserta didik dari kelompok marginal. Penelitian ini bertujuan untuk membedah bagaimana stratifikasi kelas sosial orang tua memengaruhi aksesibilitas fasilitas belajar dan pengondisian disiplin siswa. Metode penelitian yang digunakan adalah metode lapangan (field research) dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Data dikumpulkan melalui teknik wawancara mendalam terhadap kepala sekolah, guru, dan wali murid; observasi partisipatif pasif terhadap dinamika pembelajaran di kelas; serta studi dokumentasi terhadap arsip sosiodemografi sekolah. Teknik pengolahan data menggunakan model interaktif yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, sedangkan keabsahan data diuji melalui triangulasi sumber dan teknik. Simpulan penelitian menunjukkan bahwa meskipun SDN 2 Tabat sukses mengimplementasikan keadilan formal berupa pembebasan biaya administrasi dan penyaluran bantuan finansial (PIP), kesenjangan akses belajar substantif masih terjadi secara nyata. Siswa dari kelas sosial atas dengan mudah beradaptasi pada pembelajaran digital berkat modal ekonomi domestik yang kuat. Sebaliknya, siswa dari kelas sosial bawah rentan mengalami ketertinggalan fasilitas serta kendala kedisiplinan akibat tuntutan membantu ekonomi keluarga. Sekolah belum mampu bertindak sepenuhnya sebagai social leveller karena masih mereproduksi ketimpangan struktural masyarakat ke dalam ruang kelas. Pihak sekolah direkomendasikan untuk menerapkan strategi intervensi dan model pengajaran berdiferensiasi guna memitigasi dampak perbedaan kelas sosial tersebut.