Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Studi Kasus : Penerapan Terapi Slimber Ice terhadap Penurunan Rasa Haus Intradialisis pada Pasien Gagal Ginjal Kronik Syafira Adilah Syah; Rahma Dwi Syukrini; Ita Yuanita
Indonesian Journal of Innovation Multidisipliner Research Vol. 4 No. 2 (2026): April - Juni
Publisher : Institute of Advanced Knowledge and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijim.v4i2.1167

Abstract

Gagal ginjal kronik merupakan kondisi penurunan fungsi ginjal yang bersifat progresif dan menyebabkan pasien memerlukan terapi pengganti ginjal, salah satunya hemodialisis. Pasien yang menjalani hemodialisis diharuskan melakukan pembatasan cairan untuk mencegah kelebihan volume cairan, namun kondisi tersebut sering menimbulkan rasa haus dan mulut kering yang dapat mengganggu kenyamanan serta kepatuhan terhadap pembatasan cairan. Salah satu intervensi nonfarmakologis yang dapat digunakan untuk membantu mengurangi rasa haus adalah terapi slimber ice. Penelitian ini menggunakan desain studi kasus (case study) dengan pendekatan pre dan post intervention melalui penerapan asuhan keperawatan berbasis Evidence Based Nursing Practice (EBNP) pada dua pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis di Ruang Hemodialisis RSUD Pasar Minggu. Tingkat rasa haus diukur menggunakan instrumen Thirst Distress Scale (TDS). Intervensi berupa terapi slimber ice sebanyak 30 cc yang dikulum selama 10 menit pada jam pertama hemodialisis dan dilakukan sebanyak dua kali pertemuan. Hasil penerapan menunjukkan adanya penurunan skor TDS pada kedua pasien. Pada pasien pertama, skor TDS menurun dari 27 menjadi 24 pada pertemuan pertama dan dari 23 menjadi 20 pada pertemuan kedua. Pada pasien kedua, skor TDS menurun dari 24 menjadi 23 pada pertemuan pertama dan dari 20 menjadi 18 pada pertemuan kedua. Selain itu, pasien melaporkan mulut terasa lebih lembap, tenggorokan lebih nyaman, dan keinginan untuk minum berkurang setelah intervensi diberikan. Terapi slimber ice dapat membantu menurunkan tingkat rasa haus dan meningkatkan kenyamanan pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis sehingga dapat dipertimbangkan sebagai salah satu intervensi nonfarmakologis dalam manajemen rasa haus selama hemodialisis.  
Persepsi Staf Terhadap Kebisingan di ICU RS X: Studi Kualitatif Rahma Dwi Syukrini; Elfiana Elfiana; Yuyun Setiyawati
Indonesian Journal of Innovation Multidisipliner Research Vol. 4 No. 2 (2026): April - Juni
Publisher : Institute of Advanced Knowledge and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijim.v4i2.1386

Abstract

Ruang Intensive Care Unit (ICU) merupakan lingkungan pelayanan kesehatan dengan tingkat kebisingan yang tinggi akibat aktivitas klinis yang berlangsung selama 24 jam dan penggunaan berbagai peralatan medis. Kebisingan yang melebihi batas yang direkomendasikan dapat memengaruhi kenyamanan pasien serta kualitas lingkungan kerja tenaga kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi persepsi staf terhadap kebisingan di ICU RS X. Penelitian ini menggunakan desain kualitatif dengan pendekatan Focus Group Discussion (FGD). Partisipan dipilih secara purposive dan terdiri dari lima staf ICU yang mewakili dua profesi, yaitu kepala ruangan, perawat penanggung jawab, perawat pelaksana, dan apoteker. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dan dianalisis menggunakan analisis tematik. Analisis data menghasilkan dua tema utama. Tema pertama menunjukkan bahwa sumber kebisingan di ICU berasal dari aktivitas petugas kesehatan, seperti komunikasi antarprofesi, visite dokter, dan penanganan kegawatdaruratan, serta bunyi alarm alat medis seperti monitor pasien, ventilator, dan syringe pump. Tema kedua menunjukkan bahwa dampak psikologis kebisingan berbeda antara petugas dan pasien. Sebagian besar petugas menganggap kebisingan sebagai bagian dari sistem keselamatan pasien dan tidak mengalami gangguan psikologis yang berarti karena telah beradaptasi dengan lingkungan kerja ICU. Namun, menurut persepsi staf, kebisingan dapat menimbulkan ketidaknyamanan, gangguan istirahat, kecemasan, dan rasa takut pada pasien yang sadar. Kebisingan di ICU dipersepsikan sebagai konsekuensi dari aktivitas pelayanan kesehatan dan penggunaan teknologi pemantauan pasien yang penting untuk keselamatan pasien. Meskipun staf telah beradaptasi terhadap lingkungan yang bising, upaya pengelolaan kebisingan tetap diperlukan untuk meningkatkan kenyamanan dan kesejahteraan pasien tanpa mengurangi kualitas serta keselamatan pelayanan.