Abd. Basit Misbachul Fitri
Sekolah Tinggi Agama Islam Darussalam Nganjuk

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PERKAWINAN ANAK DI BAWAH UMUR DALAM PERSPEKTIF MAQASHID AL–USROH: Studi Kasus di KUA Kecamatan Wonosalam Kabupaten Jombang M. Qomar; Abd. Basit Misbachul Fitri
Salimiya: Jurnal Studi Ilmu Keagamaan Islam Vol. 5 No. 2 (2024): Salimiya
Publisher : Lembaga Penelitian, Penerbitan dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP3M) IAIFA Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58401/salimiya.v5i2.114

Abstract

Marriage, a sunnah of the Prophet, should align with maturity standards, as outlined in Law Number 16 of 2019, Article 7, which sets the minimum marriage age at 19 for both men and women. However, the Compilation of Islamic Law (KHI) stipulates a minimum age of 19 for men and 16 for women, allowing marriages below these ages if a marriage dispensation is obtained from the Religious Court. In 2020, records from the Wonosalam District Religious Affairs Office showed that 22 out of 282 marriages involved such dispensations. This study, using interviews and documentation, analyzed early marriage cases through a descriptive method. Findings suggest that underage marriage should not be justified solely by one maqashid value, such as avoiding adultery. Marriage should ensure the fulfillment of multiple maqashid values, including hifz al-nafs (protection of the soul), hifz al-mal (protection of wealth), hifz al-'aql (protection of intellect), and hifz al-din (protection of religion). The practice of early marriage should be carefully evaluated, considering both its benefits and drawbacks in light of maqashid principles. Focusing on a single maqashid value while neglecting others contradicts the comprehensive message of the Qur'an, which emphasizes the balance of maslahah (benefit) and mafsadat (harm). Thus, underage marriage requires a thorough consideration of all relevant aspects to uphold the Qur'anic ideals.
Rekonstruksi Konsep Hadanah dalam Fiqh Klasik dan Relevansinya Terhadap Kompilasi Hukum Islam Arfan Rizani; Ermanita Permatasari; Abd. Basit Misbachul Fitri; Sandi Ferdy Yulianto
Minhaj: Jurnal Ilmu Syariah Vol. 6 No. 2 (2025): Juli
Publisher : Lembaga Penerbitan Jurnal Ilmiah Institut Agama Islam Bani Fattah Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52431/minhaj.v6i2.3934

Abstract

Konsep hadanah dalam fiqh klasik berakar pada kewajiban pemeliharaan dan pengasuhan anak oleh ibu dalam fase awal kehidupan, namun memiliki keterbatasan dalam merespons kompleksitas realitas sosial kontemporer. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji ulang konsep hadanah dalam tradisi fiqh empat mazhab serta menilai relevansinya terhadap ketentuan dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) di Indonesia, khususnya dalam Pasal 105. Dengan menggunakan pendekatan studi pustaka dan analisis kualitatif berbasis maqāṣid al-syarī‘ah, artikel ini menyoroti pentingnya transformasi pemikiran hukum Islam yang lebih adaptif dan humanistik. Penelitian menunjukkan bahwa fiqh klasik, meskipun memiliki fondasi normatif yang kuat, belum sepenuhnya mempertimbangkan aspek psikologis, emosional, dan kesejahteraan anak secara holistik. Sementara itu, KHI memberikan langkah awal dalam reformasi hukum hadanah di Indonesia, namun masih bersifat rigid dan memerlukan pendekatan kontekstual dalam implementasinya. Oleh karena itu, rekonstruksi hukum hadanah harus diarahkan pada penguatan prinsip best interest of the child, integrasi nilai maqāṣid al-syarī‘ah seperti ḥifẓ al-nafs dan ḥifẓ al-nasl, serta penyusunan kebijakan hukum keluarga Islam yang responsif terhadap kebutuhan riil anak dan tantangan zaman modern. Kata Kunci: Hadanah, Fiqh Klasik, Kompilasi Hukum Islam.