The Tatambaken oral tradition represents the sociocultural identity of the Minahasa people, embodying local wisdom. However, modernization threatens the intergenerational transmission of this tradition. This study aims to analyze the linguistic vitality of Tatambaken and the dynamics of its management as a living heritage. Using qualitative methods with an ethnolinguistic approach, data were collected through participant observation and in-depth interviews in several indigenous communities in Minahasa. The results indicate that the vitality of Tatambaken is at a "vulnerable" level, but it possesses resilience through the process of adapting its functions in traditional ceremonies and formal events. Management of this tradition requires synergy between natural inheritance within families and institutional revitalization by the local government. Abstrak Tradisi lisan Tatambaken mewakili identitas sosial budaya masyarakat Minahasa, yang mewujudkan kearifan lokal. Namun, modernisasi mengancam transmisi tradisi ini antar generasi. Studi ini bertujuan untuk menganalisis vitalitas linguistik Tatambaken dan dinamika pengelolaannya sebagai warisan hidup. Dengan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnolinguistik, data dikumpulkan melalui observasi partisipan dan wawancara mendalam di beberapa komunitas adat di Minahasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa vitalitas Tatambaken berada pada tingkat "rentan", tetapi memiliki ketahanan melalui proses adaptasi fungsinya dalam upacara tradisional dan acara formal. Pengelolaan tradisi ini membutuhkan sinergi antara warisan alami dalam keluarga dan revitalisasi kelembagaan oleh pemerintah daerah.