The phenomenon of demonstrations within the modern socio-political landscape places Christians in an ethical dilemma between the call to pursue justice and the commitment to uphold love and peace. Using a qualitative approach through literature study and contextual theological reflection, this research examines how Christian ethics can serve as a normative framework for Christian participation in public protests. The findings demonstrate that demonstrations carried out with pure motives, integrity of faith, and non-violent principles are consistent with the values of the Gospel. Furthermore, this study offers a theological reinterpretation that the concept of love cannot be reduced to passive, gentle, or conflict-avoiding attitudes, but may also be expressed through prophetic actions such as firm protest, sharp critique, and bold speech aimed at upholding truth and defending human dignity. In this sense, love functions as a moral force that does not generate chaos but awakens public moral consciousness, restrains injustice, and promotes more humane social transformation. Thus, this study expands the discourse of public theology by asserting that love, peace, and justice constitute the ethical foundation that guides Christians in maintaining the integrity of their faith within the public sphere. Keywords: ethics of demonstration; Christian ethics; integrity of faith; love and peace; public awareness Abstrak Fenomena demonstrasi dalam konteks sosial-politik modern menempatkan orang Kristen pada dilema etis antara panggilan memperjuangkan keadilan dan komitmen terhadap kasih serta damai. Penelitian ini, melalui pendekatan kualitatif berbasis studi pustaka dan refleksi teologi kontekstual, menelaah bagaimana etika Kristen dapat menjadi kerangka normatif bagi partisipasi umat dalam aksi demonstrasi. Hasil kajian menunjukkan bahwa demonstrasi yang dilakukan dengan motivasi murni, integritas iman, dan prinsip non-kekerasan selaras dengan nilai-nilai Injil. Lebih jauh, penelitian ini menawarkan reinterpretasi teologis bahwa konsep kasih tidak dapat direduksi pada sikap pasif, lembut, atau menghindari konflik, tetapi dapat terwujud dalam ekspresi profetis seperti protes tegas, kritik tajam, dan suara lantang yang bertujuan menegakkan kebenaran serta membela martabat manusia. Dalam pengertian ini, kasih berfungsi sebagai energi moral yang bukan menciptakan kekacauan, tetapi membangkitkan kesadaran publik, menahan laju ketidakadilan, dan mendorong perubahan sosial yang lebih manusiawi. Dengan demikian, penelitian ini memperluas diskursus teologi publik dengan menegaskan bahwa kasih, damai, dan keadilan merupakan fondasi etika demonstrasi yang membimbing orang Kristen menjaga integritas iman di ruang publik. Kata kunci: etika berdemostrasi; etika Kristen; integritas iman; kasih dan perdamaian; kesadaran publik