Gunawan
Bethany International Church Melbourne, Australia

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Spirit-Led Formation: Pentecostal Pneumatology and Children’s Spirituality in the Digital Era Didimus Sutanto B. Prasetya; Johnly Mewengkang; Gunawan
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 8 No. 2: Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/bd3fte71

Abstract

This study explores how Pentecostal pneumatology provides a theological foundation for shaping children’s spirituality in the digital era. The research addresses the problem of spiritual superficiality among Generation Alpha, which grows up in a technology-saturated environment that both connects and distracts. Using a qualitative theological approach that integrates hermeneutic and grounded theory methods, this study analyzes biblical texts (Acts 2; Joel 2) and recent scholarly findings in Pentecostal and Christian education. The results show that the Holy Spirit continues to work powerfully in digital contexts, forming children as active participants in God’s redemptive mission. A Spirit-led transformative framework is proposed, encompassing experiential, relational, cognitive, ethical, and missional dimensions that guide Christian education and family discipleship. The study concludes that technology can serve as a sacred medium for faith formation when it is directed by the Holy Spirit and supported by a Spirit-centered pedagogy. Keywords: Christian education; digital culture; Pentecostal pneumatology; spiritual formation; spirituality of children Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana pneumatologi Pentakosta memberikan dasar teologis untuk pembentukan spiritualitas anak di era digital. Permasalahan utama yang diangkat adalah meningkatnya kecenderungan superfisialitas iman di kalangan Generasi Alfa yang tumbuh dalam budaya digital yang sarat dengan konektivitas, namun sering kali miskin kedalaman rohani. Penelitian ini menggunakan pendekatan teologi kualitatif dengan metode hermeneutik dan grounded theory, yang menggabungkan kajian eksegesis terhadap teks biblika (Kisah Para Rasul 2 dan Yoel 2) dengan analisis kepustakaan atas penelitian-penelitian terkini dalam bidang teologi Pentakosta dan pendidikan Kristen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Roh Kudus tetap berkarya secara aktif dalam konteks digital, membentuk anak-anak sebagai peserta yang berdaya rohani dalam misi penebusan Allah. Melalui kerangka Spirit-Led Transformative Formation, ditemukan bahwa pembentukan spiritualitas anak dapat dikembangkan melalui lima dimensi, yaitu pengalaman, relasional, kognitif, etis, dan misioner. Dengan demikian, teknologi tidak harus dipandang sebagai ancaman bagi iman, tetapi dapat menjadi media kudus untuk pendidikan rohani apabila diarahkan oleh bimbingan Roh Kudus serta didukung oleh pendekatan pedagogis yang berpusat pada karya-Nya. Kata kunci: budaya digital; formasi rohani; pendidikan Kristen; pneumatologi Pentakosta; spiritualitas anak
The Economic-Soteriological Dimension of the Doctrine of the Trinity in Pentecostal-Charismatic Perspective: A Biblical-Theological Inquiry Petrus Ng; Nicodemus Welhelem Manuhutu; Gunawan
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 9 No. 1: June 2026
Publisher : Institut Kristen Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/gwwk3358

Abstract

This article examines the economic-soteriological dimension of the doctrine of the Trinity from a biblical-theological and Pentecostal-Charismatic perspective. It does not reject the classical ontological formulation of the Trinity, but clarifies how Scripture witnesses to the saving work of the Father, the Son, and the Holy Spirit in the economy of salvation. Using a qualitative biblical-theological method, the study analyzes Genesis 1:1-3, John 1:1-14, and 1 Corinthians 8:4-6 in dialogue with contemporary discussions on the relation between the immanent and economic Trinity. The study shows that Genesis 1:1-3 cautiously opens a theological horizon for the creative work of God’s Spirit without overreading the Old Testament as an explicit Nicene formula. John 1:1-14 presents high Logos Christology oriented toward incarnation and salvation, while 1 Corinthians 8:4-6 frames the Father and Jesus Christ within Christian monotheistic confession, worship, and life. From a Pentecostal-Charismatic perspective, Spirit baptism, testimony, and altar-centered soteriology are understood as lived participation in the triune economy of salvation. The article contributes a moderated synthesis that connects biblical theology, Trinitarian restraint, and Pentecostal spirituality. Abstrak Artikel ini mengkaji dimensi ekonomi-soteriologis doktrin Tritunggal dalam perspektif biblika-teologis dan Pentakostal-Karismatik. Kajian ini tidak menolak formulasi ontologis klasik tentang Tritunggal, tetapi memperjelas bagaimana Kitab Suci menyaksikan karya keselamatan Bapa, Anak, dan Roh Kudus dalam ekonomi keselamatan. Dengan metode kualitatif biblika-teologis, artikel ini menganalisis Kejadian 1:1-3, Yohanes 1:1-14, dan 1 Korintus 8:4-6 dalam dialog dengan diskusi kontemporer tentang hubungan Tritunggal imanen dan Tritunggal ekonomi. Hasil kajian menunjukkan bahwa Kejadian 1:1-3 membuka cakrawala teologis tentang karya kreatif Roh Allah tanpa membaca Perjanjian Lama secara berlebihan sebagai formula Nicea eksplisit. Yohanes 1:1-14 menampilkan Kristologi Logos yang tinggi dan berorientasi pada inkarnasi serta keselamatan, sedangkan 1 Korintus 8:4-6 menempatkan Bapa dan Yesus Kristus dalam pengakuan monoteistik, ibadah, dan kehidupan Kristen. Dalam perspektif Pentakostal-Karismatik, baptisan Roh, kesaksian, dan soteriologi altar dipahami sebagai partisipasi hidup dalam ekonomi keselamatan Allah Tritunggal. Artikel ini berkontribusi melalui sintesis moderat antara teologi biblika, kehati-hatian Trinitarian, dan spiritualitas Pentakostal.
From Bethlehem to the Classroom: An Incarnational Paradigm for Christian Early Childhood Education Gunawan; Sri Pertiwi
Real Kiddos: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Vol. 4 No. 2: March 2026
Publisher : Institut Kristen Teologi REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/grkdde11

Abstract

This article develops an incarnational pedagogical paradigm for Christian early childhood education, grounded in the biblical narrative of the Incarnation as presented in Luke 2:1-20 and John 1:14. Employing a constructive theological method, the study integrates exegetical analysis of the selected biblical texts with contemporary educational theory and developmental psychology to formulate a holistic framework for children aged 0-6. Four interconnected dimensions are proposed: pedagogy as hospitality, curriculum as narrative participation, assessment as gift and growth, and community as the primary site of formation. The study argues that the Incarnation, understood as God's embodied presence in Jesus Christ, fundamentally reorders the logic of Christian education by displacing cognitive-centered and performance-driven models in favor of a framework centered on embodiment, relational presence, and prevenient grace. Children are affirmed as imago Dei, possessing intrinsic dignity and spiritual capacity prior to any academic achievement. The study concludes that when incarnational theology fully inhabits educational practice, the Christian classroom becomes a modern Bethlehem, a sacred space where divine love is made concretely real in the lives of young children and where the church reclaims its formative role in holistic child development. Keywords: incarnational theology; Christian early childhood education; embodied pedagogy; imago Dei; spiritual formation Abstrak Artikel ini mengembangkan paradigma pedagogis inkarnasional untuk pendidikan anak usia dini Kristen, yang berlandaskan pada narasi Alkitab tentang Inkarnasi sebagaimana tertuang dalam Lukas 2:1-20 dan Yohanes 1:14. Dengan menggunakan metode teologi konstruktif, penelitian ini mengintegrasikan analisis eksegesis teks Alkitab yang dipilih dengan teori pendidikan kontemporer dan psikologi perkembangan untuk merumuskan kerangka holistik bagi anak usia 0-6 tahun. Empat dimensi yang saling terhubung diusulkan, yakni pedagogi sebagai keramahtamahan, kurikulum sebagai partisipasi naratif, penilaian sebagai anugerah dan pertumbuhan, serta komunitas sebagai ruang pembentukan utama. Penelitian ini berargumen bahwa Inkarnasi, yang dipahami sebagai kehadiran Allah yang menjelma dalam diri Yesus Kristus, secara fundamental menyusun ulang logika pendidikan Kristen dengan menggeser model yang berpusat pada kognisi dan berorientasi kinerja, menuju kerangka yang berpusat pada penjelmaan, kehadiran relasional, dan anugerah yang mendahului. Anak-anak diteguhkan sebagai imago Dei, yang memiliki martabat intrinsik dan kapasitas spiritual sebelum pencapaian akademis apa pun. Penelitian ini menyimpulkan bahwa ketika teologi inkarnasional sepenuhnya menghuni praktik pendidikan, ruang kelas Kristen menjadi Betlehem modern, yakni ruang sakral di mana kasih ilahi diwujudkan secara nyata dalam kehidupan anak-anak usia dini, dan di mana gereja kembali mengemban perannya dalam pengembangan anak secara holistik. Kata Kunci: teologi inkarnasional; pendidikan anak usia dini Kristen; pedagogi terwujud; imago Dei; pembentukan spiritual