Muhamad Sahiddin
[Scopus ID: 57201216454] Jurusan Keperawatan, Poltekkes Kemenkes Jayapura

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KEPATUHAN MINUM OBAT PADA PENDERITA KUSTA : THE RELATIONSHIP BETWEEN FAMILY SUPPORT WITH DRINKING COMPLIANCE IN LEPROSY PATIENTS Muhamad Sahiddin
JURNAL KEPERAWATAN TROPIS PAPUA Vol. 4 No. 1 (2021): JUNI 2021
Publisher : Poltekkes Kemenkes Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/jktp.v4i1.337

Abstract

Penyakit kusta sampai saat ini masih ditakuti oleh masyarakat, keluarga dan termasuk sebagian petugas kesehatan. Hal ini disebabkan, masih kurangnya pengetahuan dan kepercayaan yang keliru terhadap kusta serta cacat yang ditimbulkannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan kepatuhan minum obat kusta. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross sectional yang dilakukan pada bulan April – Mei 2021 di Kabupaten Mimika. Sampel penelitian berjumlah 33 orang yang merupakan pasien kusta terdaftar pada register kohort puskesmas yang telah menjalani pengobatan 6 – 9 bulan pada tipe pausibasiler dan 12 – 18 bulan pada tipe multibasile. Analisis bivariate dilakukan dengan menentukan hubungan dukungan keluarga dan kepatuhan minum obat menggunakan uji chi-square dengan α= 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan keluarga dalam bentuk dukungan emosional (p= 0,025; OR 6,25 (1.145 – 34,123)), dukungan penilaian (p= 0,025; OR 6,25 (1.145 – 34,123)), dukungan informasi (p= 0,027; OR 6,00 (1,134 – 31,735) dan dukungan instrumental (p= 0,000; OR 38,5 (4,545 – 326,102)) berhubungan dengan kepatuhan minum obat pada pasien kusta. Pasien yang mendapatkan dukungan keluarga yang baik memiliki peluang lebih tinggi untuk patuh minum obat dibandingkan dengan pasien yang mendapatkan dukungan keluarga dalam kategori kurang. Keluarga pasien perlu mendapatkan pelatihan dan penyuluhan tentang pendampingan dan penguatan pasien kusta untuk menjalani pengobatan kusta. Until now, leprosy is still feared by the community, families, and some health workers. This is due to a lack of knowledge and erroneous beliefs about leprosy and the defects it causes. This study aims to determine the relationship between family support and adherence to taking leprosy medication. The research used a quantitative approach with a cross-sectional design which was conducted in April - May 2021 in Mimika Regency. The study sample consisted of 33 people who were leprosy patients registered in the cohort register of the Centre Health Services who had undergone treatment for 6-9 months for the paucibacillary type and 12-18 months for the multibacillary type. Bivariate analysis was performed by determining the relationship between family support and medication adherence using the chi-square test with α = 0.05. The results showed that family support was in the form of emotional support (p= 0.025; OR 6.25 (1.145 – 34.123)), appraisal support (p= 0.025; OR 6.25 (1.145 – 34.123)), informational support (p= 0.027; OR 6.00 (1.134 – 31.735) and instrumental support (p = 0.000; OR 38.5 (4.545 – 326.102)) are related to medication adherence in leprosy patients. Patients who get good family support have a higher chance of adherence patients who take medication compared to patients who receive family support are in the less category. Families of patients need to receive training and counseling on assisting and strengthening leprosy patients to undergo leprosy treatment.
PENGEMBANGAN POS REMAJA SEBAGAI EDUKATOR KESEHATAN DI KAMPUNG KOYA TENGAH, KOTA JAYAPURA: DEVELOPMENT OF YOUTH HEALTH POST AS A HEALTH EDUCATOR IN KAMPUNG KOYA TENGAH, JAYAPURA CITY Muhamad Sahiddin; Zeth Roberth Felle; Ardhanari Hendra Kusuma
JURNAL KEPERAWATAN TROPIS PAPUA Vol. 6 No. 2 (2023): DESEMBER 2023
Publisher : Poltekkes Kemenkes Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Remaja merupakan kelompok usia yang rentan terhadap berbagai permasalahan kesehatan seperti perilaku seksual berisiko, penyalahgunaan zat, dan rendahnya kesadaran akan kesehatan reproduksi. Di wilayah Papua, khususnya Kampung Koya Tengah, akses terhadap informasi dan layanan kesehatan remaja masih terbatas. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk mengembangkan POS Remaja sebagai sarana edukasi kesehatan yang berbasis komunitas dan sekolah, guna meningkatkan pengetahuan remaja terhadap isu-isu kesehatan, khususnya yang berkaitan dengan penyakit tropis. Kegiatan dilakukan melalui pelatihan edukatif yang melibatkan Puskesmas Koya Barat, SMPN 8 Koya Barat, dan aparat kampung, serta diakhiri dengan launching POS Remaja sebagai bentuk komitmen lintas sektor. Evaluasi dilakukan dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif melalui pre-test dan post-test serta observasi keaktifan peserta. Hasil menunjukkan peningkatan rata-rata skor pengetahuan sebesar 21,26 poin setelah pelatihan. Kegiatan ini terbukti efektif dalam meningkatkan literasi kesehatan remaja serta memperkuat kolaborasi antara institusi pendidikan dan layanan kesehatan. POS Remaja dapat dijadikan model layanan promotif-preventif berbasis komunitas untuk menjawab tantangan kesehatan remaja di wilayah dengan keterbatasan akses. Adolescents are a vulnerable age group facing various health issues, including risky sexual behavior, substance abuse, and low awareness of reproductive health. In Papua, particularly in Kampung Koya Tengah, access to accurate health information and adolescent-friendly health services remains limited. This community service program aimed to develop a Youth Health Post (POS Remaja) as a community- and school-based health education platform to enhance adolescent knowledge on health issues, particularly those related to tropical diseases. The activities included structured health education sessions involving the Koya Barat Health Center, SMPN 8 Koya Barat, and local village authorities, and concluded with a formal launching of the POS Remaja to establish cross-sectoral commitment. Evaluation was conducted using both quantitative and qualitative approaches through pre- and post-tests and participant observation. Results showed a significant improvement in knowledge, with an average increase of 21.26 points following the educational intervention. This program effectively improved adolescent health literacy and strengthened collaboration between educational institutions and healthcare services. The POS Remaja model may serve as a promotive-preventive strategy for addressing adolescent health challenges in areas with limited access to healthcare.