Kismiyati Kismiyati
Jurusan Keperawatan, Politeknik Kesehatan Jayapura, Jayapura

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Hubungan antara tingkat stres dan kualitas tidur pada mahasiswa keperawatan tingkat akhir: The relationship between stress levels and sleep quality among final-year nursing students Nasrah; Kismiyati Kismiyati; Zeth Roberth Felle; Frengky Apay; Theresia Febriana Christi Tyas Utami; Ananda Ayu Marchella
JURNAL KEPERAWATAN TROPIS PAPUA Vol. 8 No. 1 (2025): JUNI 2025
Publisher : Poltekkes Kemenkes Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/jktp.v8i1.452

Abstract

Mahasiswa keperawatan tingkat akhir menghadapi tekanan akademik dan klinis yang tinggi, yang dapat berdampak pada kualitas tidur. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara tingkat stres dan kualitas tidur pada mahasiswa keperawatan tingkat akhir. Penelitian ini menggunakan desain cross setional. Sebanyak 48 mahasiswa semester VIII pada Program Studi Sarjana Terapan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Jayapura dipilih secara acak. Tingkat stres diukur menggunakan Student Stress Inventory (SSI), sedangkan kualitas tidur dinilai menggunakan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Data dianalisis dengan uji Chi-square, odds ratio (OR), dan uji t tidak berpasangan. Sebanyak 29,2% responden tergolong stres tinggi (skor SSI >96), sedangkan 50% memiliki kualitas tidur buruk (skor PSQI >5). Terdapat hubungan signifikan antara tingkat stres dan kualitas tidur (p=0,026; OR=5,92; 95% CI: 1,38–25,30). Selain itu, ditemukan perbedaan signifikan dalam durasi tidur (p= 0,023) dan skor total PSQI (p= 0,044) antara kelompok mahasiswa dengan kategori stres tinggi dan rendah. Mahasiswa dengan stres tinggi memiliki kemungkinan lebih besar mengalami kualitas tidur buruk. Diperlukan intervensi institusional untuk membantu mahasiswa mengelola stres dan meningkatkan kualitas tidur, terutama menjelang akhir masa studi mereka. Final-year nursing students face intense academic and clinical pressures, which may negatively impact their sleep quality. This study aimed to analyze the relationship between stress levels and sleep quality among final-year nursing students. A cross-sectional design was employed. A total of 48 eighth-semester students from the Applied Bachelor of Nursing Program at Poltekkes Kemenkes Jayapura were randomly selected. Stress levels were measured using the Student Stress Inventory (SSI), while sleep quality was assessed using the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Data were analyzed using Chi-square tests, odds ratios (OR), and independent t-tests. A total of 29.2% of respondents were classified as having high stress (SSI score >96), and 50% reported poor sleep quality (PSQI score >5). A significant association was found between stress level and sleep quality (p=0.026; OR=5.92; 95% CI: 1.38–25.30). In addition, significant differences were found in sleep duration (p=0.023) and total PSQI scores (p=0.044) between students in the high-stress and low-stress categories. Students with high stress were more likely to experience poor sleep quality. Institutional interventions are needed to help students manage stress and improve sleep quality, especially toward the end of their academic program.
Hubungan pengawasan kader dengan kekambuhan penyakit malaria di wilayah kerja Puskesmas Waibu, Kabupaten Jayapura: The relationship between cadre supervision and malaria recurrence in the working area of Waibu Community Health Center, Jayapura Regency Kismiyati Kismiyati; Melinda Estuning Putri
JURNAL KEPERAWATAN TROPIS PAPUA Vol. 9 No. 1 (2026): JUNI 2026
Publisher : Poltekkes Kemenkes Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/jktp.v9i1.508

Abstract

Kekambuhan malaria masih menjadi tantangan dalam upaya pengendalian malaria di wilayah kerja Puskesmas Waibu, Kabupaten Jayapura, sehingga diperlukan penguatan pengawasan kader melalui konseling, evaluasi, dan kontrol pengobatan. Kader malaria berperan penting dalam memastikan kepatuhan pengobatan pasien dan memantau kemungkinan kekambuhan melalui kunjungan dan komunikasi langsung kepada masyarakat. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan pengawasan kader dengan kekambuhan malaria di wilayah kerja Puskesmas Waibu, Kabupaten Jayapura, tahun 2026. Desain penelitian adalah analitik observasional dengan pendekatan case-control retrospektif dengan sampel berjumlah 94 responden yang terdiri dari 47 kasus dan 47 kontrol, dipilih menggunakan purposive sampling dengan perbandingan 1:1. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur yang terdiri dari 12 item yang mengukur tiga komponen pengawasan kader, yaitu konseling, evaluasi pengobatan, dan kontrol pengobatan, dan dianalisis menggunakan uji chi-square serta perhitungan odds ratio (OR). Evaluasi pengobatan menunjukkan hubungan yang paling kuat dengan kekambuhan malaria (p = 0,001; OR = 4,40), diikuti konseling kader (p = 0,004; OR = 3,47), sedangkan kontrol pengobatan tidak menunjukkan hubungan yang signifikan (p = 0,058). Penguatan kapasitas kader pada aspek konseling dan evaluasi pengobatan perlu menjadi prioritas dalam upaya pengendalian kekambuhan malaria di wilayah endemis. Malaria recurrence remains a challenge to malaria control efforts in the working area of Puskesmas Waibu, Jayapura Regency, highlighting the need to strengthen cadre supervision through counseling, treatment evaluation, and treatment monitoring. Malaria cadres play a central role in ensuring patient adherence to treatment and monitoring possible recurrence through direct visits and communication with the community. This study aimed to determine the relationship between cadre supervision and malaria recurrence in the working area of Puskesmas Waibu, Jayapura Regency, in 2026. A quantitative observational analytic design with a retrospective case-control approach was used, with a sample of 94 respondents consisting of 47 cases and 47 controls, selected using purposive sampling at a 1:1 ratio. Data were collected using a structured questionnaire comprising 12 items measuring three components of cadre supervision, namely counseling, treatment evaluation, and treatment monitoring, and analyzed using the chi-square test and odds ratio (OR) calculation. Treatment evaluation showed the strongest relationship with malaria recurrence (p = 0.001; OR = 4.40), followed by cadre counseling (p = 0.004; OR = 3.47), while treatment monitoring showed no significant relationship (p = 0.058). Strengthening cadre capacity in counseling and treatment evaluation should be prioritized in efforts to control malaria recurrence in endemic areas.