Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Strategi Pendidikan Multikultural Untuk Menangkal Intoleransi di Ruang Siber Pada Gen-Z: Multicultural Education Strategies to Counter Intolerance in Cyberspace Among Generation Z Akhmad Khairi; Sapuadi
Bestari: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 6 No 2 (2026): Mei 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Melawi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46368/dpkm.v6i2.5107

Abstract

Abstrak Perkembangan teknologi informasi telah mengalihkan interaksi sosial ke ruang siber, namun sekaligus memicu tantangan baru berupa intoleransi, echo chamber, dan ujaran kebencian. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi strategi pendidikan multikultural yang efektif dalam memitigasi intoleransi digital melalui pendekatan kualitatif deskriptif-analitis. Data dikumpulkan melalui studi literatur mendalam, observasi partisipatif pada platform digital, serta wawancara mendalam. Subjek penelitian terdiri dari 3 informan yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Teknik analisis data yang digunakan mengadopsi model interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian secara terukur merumuskan lima pilar utama strategi operasional. Penelitian menyimpulkan bahwa penguatan empati digital yang diintegrasikan dengan kerangka pedagogis dialogis-demokratis mampu mereduksi ketegangan antar kelompok dan mengubah ruang siber menjadi ekosistem yang lebih manusiawi serta inklusif. Kata Kunci: Empati Digital, Intoleransi Siber, Pendidikan Multikultural. Abstract The development of information technology has shifted social interactions to cyberspace, but at the same time, it has triggered new challenges in the form of intolerance, echo chambers, and hate speech. This study aims to explore effective multicultural education strategies in mitigating digital intolerance through a qualitative descriptive-analytical approach. Data were collected through in-depth literature review, participant observation on digital platforms, and in-depth interviews. The research subjects consisted of three informants selected using a purposive sampling technique. The data analysis technique used adopted the interactive model of Miles and Huberman. The research results measurably formulate five main pillars of operational strategy. The study concludes that strengthening digital empathy integrated with a dialogical-democratic pedagogical framework can reduce tensions between groups and transform cyberspace into a more humane and inclusive ecosystem. Keywords: Digital Empathy, Cyber ​​Intolerance, Multicultural Education.
Agama sebagai Pilar Harmoni dalam Masyarakat Multikultural: Agama sebagai Pilar Harmoni dalam Masyarakat Multikultural FITRIYA FITRIYA; Sapuadi
Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara Vol. 7 No. 1 (2026): Edisi Januari - April
Publisher : Lembaga Dongan Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplor agama sebagai pilar harmoni dalam masyarakat multikultural sebagai realitas sosial yang ditandai oleh keberagaman agama, budaya, suku, dan nilai-nilai kehidupan. Keberagaman ini di satu sisi menjadi kekayaan sosial, namun di sisi lain dapat memunculkan berbagai tantangan seperti konflik sosial, intoleransi, dan diskriminasi. Dalam konteks tersebut, agama memiliki peran strategis sebagai sumber nilai moral dan etika yang mampu membangun sikap saling menghargai dan hidup berdampingan secara harmonis. Pendekatan yang digunakan adalah studi kepustakaan atau library research dengan metode deskriptif-kualitatif, melalui analisis tehadap literatur literatur daru jurnal dan buku. Fokus penelitian ini diarahlakan kepada agama sebagai pilar harmoni pada masyarakat yang multikultural. Hasil penelitian menunjukkan masyarakat Indonesia yang multikultural, agama berpotensi menjadi kekuatan pemersatu sekaligus penjaga harmoni sosial apabila nilai-nilainya dikelola secara inklusif, bijaksana, dan kontekstual. Temuan penelitian menunjukkan bahwa ajaran agama, khususnya Islam yang bersifat universal dan inklusif, Temuan ini menegaskan Temuan ini menegaskan bahwa agama tidak hanya berfungsi sebagai pedoman spiritual individual, tetapi juga memiliki peran sosial yang strategis dalam mengelola keragaman dan memperkuat kohesi sosial. Oleh karena itu, aktualisasi nilai-nilai agama yang berorientasi pada kemanusiaan, moderasi, dan dialog lintas budaya menjadi kunci penting dalam mewujudkan kehidupan masyarakat multikultural yang harmonis dan berkelanjutan. Hasil kajian menunjukkan bahwa agama berperan penting dalam menanamkan nilai toleransi, moderasi,dan keadilan. Selain itu, agama juga berfungsi sebagai sarana dalam masyarakat multikultural yang ditandai oleh keberagaman agama, budaya, suku, dan sistem nilai, agama memiliki fungsi strategis sebagai pilar utama dalam menjaga harmoni sosial. Keberadaan agama tidak hanya berperan sebagai pemenuh kebutuhan spiritual individu, tetapi juga sebagai sumber nilai moral, etika, dan norma sosial yang mengatur relasi antarindividu dan kelompok dalam kehidupan bermasyarakat