Andi Frieskha Naurah Paradiesta
Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran Universitas Mataram, Mataram, Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

GANGGUAN DEPRESI PADA KORBAN KEKERASAN SEKSUAL: FAKTOR RISIKO, MEKANISME, DAN INTERVENSI: SEBUAH TINJAUAN PUSTAKA Puti Amelia Savitri; Andi Frieskha Naurah Paradiesta; Muhammad Rafi Maulana; Disa Fadil Musyarof; Emmy Amalia
Jurnal Riset Kajian Teknologi dan Lingkungan Vol. 9 No. 1 (2026): Jurnal Riset Kajian Teknologi dan Lingkungan
Publisher : LPPM Universitas Samawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58406/jrktl.v9i1.2426

Abstract

Tujuan tinjauan ini adalah menganalisis hubungan kekerasan seksual dengan gangguan depresi, mengidentifikasi faktor yang memperberat gejala, serta merangkum intervensi psikologis dan klinis yang relevan bagi korban. Artikel ini menggunakan narrative review terstruktur dengan alur pelaporan mengacu pada PRISMA 2020. Literatur ditelusuri melalui PubMed dan Google Scholar pada publikasi 2016-2025 menggunakan kombinasi kata kunci sexual violence, sexual assault, depression, mental health, psychological intervention, kekerasan seksual, depresi, dan dukungan sosial. Pencarian awal memperoleh 224 artikel; setelah duplikasi, seleksi judul/abstrak, penilaian teks lengkap, dan penerapan kriteria inklusi-eksklusi, sebanyak 20 sumber utama dianalisis secara naratif. Hasil tinjauan menunjukkan bahwa kekerasan seksual berhubungan kuat dengan depresi, PTSD, kecemasan, penurunan fungsi sosial, dan risiko bunuh diri. Meta-analisis menunjukkan korban kekerasan seksual memiliki risiko depresi lebih tinggi dibandingkan populasi tidak terpapar, sementara polyvictimization dan stigma sosial memperberat dampak psikologis. Faktor usia muda, jenis kelamin, kualitas dukungan sosial, victim-blaming, dan hambatan akses layanan menjadi penentu penting dalam pemulihan. Intervensi yang paling konsisten direkomendasikan meliputi asesmen dini, pendekatan trauma-informed care, psikoterapi berbasis bukti seperti CBT/CPT, psikoedukasi, dukungan keluarga, support group, serta farmakoterapi sesuai indikasi klinis.