Demam tifoid merupakan salah satu penyakit infeksi yang masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat di negara berpenghasilan rendah dan menengah, terutama akibat kondisi lingkungan dan sosial ekonomi yang belum memadai. Literatur review ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara status sosial ekonomi dengan insiden demam tifoid berdasarkan berbagai penelitian yang telah dipublikasikan. Proses pencarian literatur dilakukan secara sistematis melalui beberapa basis data ilmiah yang kredibel, seperti PubMed, ScienceDirect, Scopus, Google Scholar, serta Portal Garuda untuk publikasi nasional. Selain itu, dokumen resmi dari lembaga kesehatan dunia seperti WHO digunakan sebagai sumber pelengkap. Kata kunci pencarian dirumuskan dalam kombinasi Boolean, antara lain “typhoid fever”, “Salmonella Typhi”, “socioeconomic status”, “poverty”, “WASH”, “incidence”, dan “risk factors dengan artikel 10 tahun terakhir (2015-2025). Peneliti menemukan 645 artikel dan 12 artikel yang memenuhi syarat. Hasil sintesis menunjukkan bahwa kelompok masyarakat dengan status sosial ekonomi rendah memiliki risiko lebih tinggi untuk terinfeksi demam tifoid karena sering terpapar air minum yang tidak layak, sanitasi buruk, serta kurangnya edukasi mengenai praktik kebersihan yang benar. Selain itu, hambatan ekonomi dalam memperoleh pemeriksaan dan pengobatan juga menyebabkan keterlambatan penanganan sehingga meningkatkan risiko penularan dalam komunitas. Ketidakmerataan akses vaksinasi tifoid turut memperberat beban penyakit pada populasi rentan. Temuan ini menegaskan bahwa perbaikan kondisi sosial ekonomi merupakan bagian penting dalam upaya pengendalian demam tifoid. Intervensi yang direkomendasikan meliputi peningkatan infrastruktur air bersih dan sanitasi, edukasi kesehatan masyarakat secara berkelanjutan, pemerataan akses layanan kesehatan, serta perluasan jangkauan vaksinasi. Dengan pendekatan yang komprehensif dan berkeadilan sosial, penurunan insiden tifoid dapat dicapai secara lebih efektif dan berkelanjutan.