Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Adaptasi dan Maladaptasi Fisiologis terhadap Paparan Chronic Intermittent Hypoxia: Integrasi Mekanisme Molekuler dan Respons Multi-Organ: Shellya Puti Sudesty Shellya Puti Sudesty; Khorina Fatin Bilqis; Sri Octa Handayani
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol. 10 No. 1 (2026): JK Unila
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jkunila.v10i1.pp20-30

Abstract

Paparan chronic intermittent hypoxia (CIH) merupakan kondisi fisiologis yang ditandai oleh siklus hipoksia–reoksigenasi berulang, yang banyak dijumpai pada gangguan seperti obstructive sleep apnea dan memiliki implikasi luas terhadap fungsi multi-organ. Meskipun telah banyak diteliti, efek CIH masih menunjukkan heterogenitas yang signifikan, dengan laporan yang mengindikasikan baik respons adaptif maupun maladaptif. Oleh karena itu, kajian ini bertujuan untuk mensintesis bukti ilmiah terkini mengenai mekanisme molekuler dan respons fisiologis multi-organ terhadap paparan CIH. Penelitian ini menggunakan pendekatan literature review dengan strategi pencarian sistematis pada basis data PubMed, Scopus, dan ScienceDirect untuk periode 2020–2026. Proses seleksi mengikuti alur PRISMA secara naratif, dengan total 38 artikel yang memenuhi kriteria inklusi dan dianalisis secara kualitatif, termasuk 12 studi utama yang disintesis secara mendalam. Analisis dilakukan dengan pendekatan tematik yang mencakup mekanisme molekuler dan respons organ-spesifik. Hasil menunjukkan bahwa CIH menginduksi spektrum respons fisiologis yang bergantung pada intensitas dan durasi paparan. Mekanisme adaptif melibatkan aktivasi jalur hypoxia-inducible factor (HIF), peningkatan kapasitas antioksidan, angiogenesis, dan reprogramming metabolik. Sebaliknya, paparan yang lebih berat memicu stres oksidatif kronis, inflamasi, disfungsi mitokondria, serta aktivasi jalur apoptosis. Pada tingkat organ, CIH berkontribusi terhadap disfungsi kardiovaskular, cedera ginjal, gangguan metabolik hepatik, dan neuroinflamasi. Secara keseluruhan, temuan menunjukkan bahwa efek CIH berada dalam suatu spektrum adaptasi–maladaptasi yang kompleks dan dipengaruhi oleh parameter paparan serta konteks biologis. Kajian ini menyoroti adanya kesenjangan penelitian terkait standardisasi protokol CIH dan integrasi lintas mekanisme molekuler serta respons multi-organ. Pendekatan integratif diperlukan untuk meningkatkan pemahaman fisiologis dan relevansi klinis dari paparan CIH.
Peran Stres Oksidatif sebagai Mediator dalam Modulasi Regulasi Hormonal terhadap Aktivitas Fisik: Tinjauan Fisiologi dan Biokimia: Shellya Puti Sudesty, Sri Octa Handayani, Khorina Fatin Bilqis Shellya Puti Sudesty; Sri Octa Handayani; Khorina Fatin Bilqis
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol. 10 No. 1 (2026): JK Unila
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jkunila.v10i1.pp39-48

Abstract

Aktivitas fisik memengaruhi homeostasis tubuh melalui interaksi kompleks antara respons neuroendokrin dan perubahan status redoks seluler. Meskipun hubungan antara aktivitas fisik dan regulasi hormonal telah banyak diteliti, peran stres oksidatif sebagai mediator dalam proses tersebut masih belum banyak disintesis secara integratif. Tinjauan ini bertujuan untuk menganalisis peran stres oksidatif sebagai mediator dalam hubungan antara aktivitas fisik dan regulasi hormonal dari perspektif fisiologi dan biokimia. Penelitian ini menggunakan metode integrative literature review dengan pendekatan sistematis berbasis PRISMA terhadap literatur yang dipublikasikan pada tahun 2019-2026 dan diperoleh dari basis data PubMed, Scopus, Web of Science, serta ScienceDirect. Artikel yang memenuhi kriteria inklusi dianalisis dan disintesis secara tematik-mekanistik berdasarkan keterkaitan antara aktivitas fisik, stres oksidatif, dan respons hormonal. Hasil sintesis menunjukkan bahwa aktivitas fisik mengaktivasi sumbu hypothalamic-pituitary-adrenal (HPA) serta memodulasi berbagai hormon, termasuk kortisol, insulin, growth hormone, dan testosteron. Secara bersamaan, aktivitas fisik meningkatkan produksi reactive oxygen species (ROS) yang memiliki peran dualistik. Pada kadar fisiologis, ROS berfungsi sebagai molekul pensinyalan dalam redox signaling yang mendukung adaptasi seluler dan efisiensi metabolik. Sebaliknya, pada kondisi produksi berlebih, ROS dapat memicu stres oksidatif yang berdampak negatif terhadap fungsi seluler dan regulasi hormonal. Aktivitas fisik dengan intensitas moderat terbukti meningkatkan kapasitas antioksidan endogen dan mendukung stabilitas homeostasis, sedangkan latihan dengan intensitas tinggi atau tanpa pemulihan yang adekuat berpotensi menyebabkan maladaptasi fisiologis. Dengan demikian, stres oksidatif berperan sebagai mediator biologis kunci yang menghubungkan aktivitas fisik dengan regulasi hormonal, sehingga pendekatan latihan berbasis keseimbangan redoks menjadi penting dalam optimalisasi adaptasi fisiologis.
Aktivitas Fisik dan Homeostasis Kardiometabolik pada Pekerja Pertanian: Interaksi Antara Beban Kerja, Stres Panas, dan Paparan Agrokimia: Shellya Puti Sudesty, Khorina Fatin Bilqis, Sri Octa Handayani Shellya Puti Sudesty; Khorina Fatin Bilqis; Sri Octa Handayani
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 13 No. 1 (2026): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jka.v13i1.pp94-100

Abstract

Pekerja pertanian terpapar kombinasi aktivitas fisik berat, panas ekstrem, dan pestisida, yang diduga memengaruhi homeostasis kardiometabolik. Literature review ini bertujuan untuk mensintesis bukti ilmiah mengenai interaksi antara aktivitas fisik kerja, heat stress, dan paparan pestisida terhadap homeostasis kardiometabolik pekerja pertanian serta mengidentifikasi mekanisme fisiologis yang mendasari hubungan tersebut. Literature review ini menganalisis empat belas studi primer terindeks dari tahun 2023-2025, mencakup desain meta-analisis, tinjauan sistematis, eksperimen, studi kohort, dan penelitian lapangan. Data diekstraksi untuk mengidentifikasi hubungan antara aktivitas fisik kerja, heat stress, paparan pestisida, dan biomarker metabolik. Aktivitas fisik pekerjaan tidak bersifat protektif dan meningkatkan risiko kardiometabolik melalui inflamasi kronis dan tekanan hemodinamik. Paparan panas memperburuk cardiac strain dan menyebabkan dehidrasi, sementara pestisida sebagai endocrine-disrupting chemicals memicu resistensi insulin, stres oksidatif, dan disfungsi mitokondria. Bukti ko-paparan menunjukkan efek sinergis panas-pestisida yang memperkuat kerusakan vaskular. Risiko kardiometabolik pada pekerja pertanian merupakan hasil interaksi multipaparan yang saling memperkuat. Pendekatan agromedisin terpadu diperlukan untuk menurunkan beban penyakit melalui manajemen beban kerja, proteksi panas, pengurangan paparan pestisida, dan pemantauan biomarker.
PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT EDUKASI PENCEGAHAN ANEMIA PADA REMAJA DAN IBU RUMAH TANGGA DESA TALANG LEBAR, KECAMATAN PUGUNG, KABUPATEN TANGGAMUS Shellya Puti Sudesty; Khorina Fatin Bilqis; Sri Octa Handayani
JPM (Jurnal Pengabdian Masyarakat) Ruwa Jurai Vol. 11 No. 1 (2026): JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT RUWA JURAI
Publisher : FK Unila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jpmrj.v11i1.3812

Abstract

Anemia masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat yang banyak terjadi pada remaja putri dan ibu rumah tangga, terutama akibat kurangnya asupan zat besi dan rendahnya pengetahuan mengenai pencegahannya. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman mengenai anemia dan upaya pencegahannya melalui edukasi kesehatan. Metode yang digunakan adalah ceramah dengan penyampaian materi secara langsung dan komunikatif, disertai sesi tanya jawab serta penggunaan media pendukung berupa leaflet. Kegiatan dilaksanakan di Desa Talang Lebar, Kecamatan Pugung, Kabupaten Tanggamus dengan sasaran remaja putri dan ibu rumah tangga. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa peserta mengikuti edukasi dengan antusias dan merespons materi dengan baik, khususnya terkait pengertian anemia, faktor risiko, tanda dan gejala, serta langkah pencegahan melalui pola makan bergizi seimbang dan konsumsi zat besi. Secara umum, edukasi kesehatan melalui metode ceramah memberikan pengalaman pembelajaran yang informatif dan berpotensi mendukung peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pencegahan anemia. Dengan demikian, kegiatan ini diharapkan dapat berkontribusi dalam memperkuat upaya promotif dan preventif pada kelompok rentan di masyarakat.