Penggunaan media sosial yang berlebihan dapat menyebabkan seseorang mengalami fenomena Fear of Missing Out (FoMO), yaitu perasaan cemas atau kekhawatiran berlebih ketika merasa tertinggal terhadap suatu hal yang sedang populer maupun perkembangan tertentu. Fenomena ini berpotensi memicu krisis identitas karena individu dapat kehilangan pemahaman terhadap jati dirinya akibat terlalu berfokus pada kehidupan orang lain serta mencari validasi dari lingkungan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan nilai mengucap syukur dalam segala hal berdasarkan 1 Tesalonika 5:18 sebagai salah satu pendekatan dalam mencegah terjadinya krisis identitas sebagai dampak dari fenomena FoMO. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui studi pustaka, yaitu dengan menganalisis berbagai sumber literatur seperti buku dan jurnal ilmiah yang relevan dengan topik penelitian. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: bagaimana makna dari perintah “mengucap syukurlah dalam segala hal” berdasarkan 1 Tesalonika 5:18? Serta bagaimana implementasi nilai tersebut dalam mencegah terjadinya krisis identitas pada individu yang mengalami dampak FoMO? Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai mengucap syukur yang terkandung dalam 1 Tesalonika 5:18 bukan hanya merupakan ajakan untuk memiliki pola pikir positif, melainkan sebuah perintah Allah bagi kehidupan orang percaya. Mengucap syukur dalam segala hal berarti mampu menerima setiap keadaan dalam kehidupan sebagai bagian dari anugerah Tuhan tanpa terus membandingkan diri dengan kehidupan orang lain. Dengan menghidupi sikap bersyukur, seseorang dapat membangun pemahaman yang benar terhadap identitas dirinya serta menyadari bahwa kehidupannya merupakan pemberian yang berharga dari Tuhan.