Artikel ini membahas tantangan keteladanan dalam kepemimpinan gereja di Indonesia, khususnya terkait hubungan antara pembentukan karakter dan praksis penggunaan otoritas dalam kepemimpinan pendeta. Berbagai kajian kepemimpinan gereja selama ini cenderung memisahkan etika kebajikan yang menekankan pembentukan karakter dari teori kepemimpinan moral yang berfokus pada praksis relasional dan pengelolaan otoritas kepemimpinan. Artikel ini bertujuan merekonstruksi kepemimpinan pendeta sebagai moral exemplar transformatif melalui dialog antara etika kebajikan dan kepemimpinan moral. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi kepustakaan dengan metode analitis-komparatif dan konstruktif untuk menganalisis pemikiran Pieter Vos dan Joanne B. Ciulla dalam melihat ketegangan antara pembentukan karakter dan praksis kepemimpinan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa etika kebajikan memiliki kekuatan dalam menjelaskan formasi karakter moral, tetapi kurang memadai dalam menjelaskan relasi kekuasaan dalam kepemimpinan, sedangkan teori kepemimpinan moral mampu menjelaskan praksis relasional kepemimpinan tetapi kurang memberi perhatian pada pembentukan karakter moral pemimpin. Artikel ini berargumen bahwa kepemimpinan pendeta perlu dipahami sebagai moral exemplar transformatif, yaitu bentuk kepemimpinan yang menempatkan keteladanan sebagai locus integratif antara karakter, relasi, dan penggunaan kuasa dalam kepemimpinan. Konsep ini diharapkan memberi kontribusi bagi pengembangan studi kepemimpinan gereja, khususnya dalam menghadapi tantangan moral dan keteladanan dalam konteks kepemimpinan gereja di Indonesia.