Andrian Raja Nagur Purba
a:1:{s:5:"en_US";s:40:"Sekolah Tinggi Filsafat Theologi Jakarta";}

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

MEREKONSTRUKSI PARADIGMA KEPEMIMPINAN PENDETA SEBAGAI MORAL EXEMPLAR TRANSFORMATIF DARI PIETER VOS DAN JOANNE B. CIULLA: Kajian Dialogis antara Etika Kebajikan dan Kepemimpinan Moral Andrian Raja Nagur Purba
Didache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 7 No. 2 (2026): Vol. 7 No. 2 (2026): Didache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen (Vol.7, No.
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Moriah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55076/didache.v7i2.627

Abstract

Artikel ini membahas tantangan keteladanan dalam kepemimpinan gereja di Indonesia, khususnya terkait hubungan antara pembentukan karakter dan praksis penggunaan otoritas dalam kepemimpinan pendeta. Berbagai kajian kepemimpinan gereja selama ini cenderung memisahkan etika kebajikan yang menekankan pembentukan karakter dari teori kepemimpinan moral yang berfokus pada praksis relasional dan pengelolaan otoritas kepemimpinan. Artikel ini bertujuan merekonstruksi kepemimpinan pendeta sebagai moral exemplar transformatif melalui dialog antara etika kebajikan dan kepemimpinan moral. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi kepustakaan dengan metode analitis-komparatif dan konstruktif untuk menganalisis pemikiran Pieter Vos dan Joanne B. Ciulla dalam melihat ketegangan antara pembentukan karakter dan praksis kepemimpinan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa etika kebajikan memiliki kekuatan dalam menjelaskan formasi karakter moral, tetapi kurang memadai dalam menjelaskan relasi kekuasaan dalam kepemimpinan, sedangkan teori kepemimpinan moral mampu menjelaskan praksis relasional kepemimpinan tetapi kurang memberi perhatian pada pembentukan karakter moral pemimpin. Artikel ini berargumen bahwa kepemimpinan pendeta perlu dipahami sebagai moral exemplar transformatif, yaitu bentuk kepemimpinan yang menempatkan keteladanan sebagai locus integratif antara karakter, relasi, dan penggunaan kuasa dalam kepemimpinan. Konsep ini diharapkan memberi kontribusi bagi pengembangan studi kepemimpinan gereja, khususnya dalam menghadapi tantangan moral dan keteladanan dalam konteks kepemimpinan gereja di Indonesia.