Anindita Adzani
Program Studi Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan, Universitas Gadjah Mada

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Urgensi Data Genomik dan Kapasitas Riset dalam Strategi Pengendalian Tuberkulosis di Indonesia Anindita Adzani
Policy Brief Pertanian, Kelautan, dan Biosains Tropika Vol. 8 No. 2 (2026): Policy Brief Pertanian, Kelautan, dan Biosains Tropika
Publisher : Direktorat Kajian Strategis dan Reputasi Akademik IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/agro-maritim.0802.1691-1695

Abstract

Setelah peningkatan kasus TB antara 2020 hingga 2023, Indonesia menjadi salah satu negara dengan TB resisten terbanyak di dunia. Data genomik dapat digunakan sebagai alat pemantau laju resistensi bakteri TB serta dampaknya terhadap efektivitas obat antibiotik di fasilitas kesehatan. Agar dapat mengumpulkan serta menganalisis data genomik secara optimal, kapasitas penelitian kesehatan nasional perlu diperkuat. Tidak hanya melalui pendanaan atau sumber daya manusia, penguatan kapasitas juga dilakukan melalui pengadaan alat, bahan, dan platform publikasi hasil penelitian. Tindak lanjut pengumpulan data adalah penerjemahan data menjadi program dan kebijakan yang spesifik bagi kelompok masyarakat yang disasar baik menurut strata sosial maupun ekonomi. 
Peranan Poster dalam Advokasi Penyalahgunaan Antibiotik Belum Maksimal: Dokter Masa Depan Perlu Kuasai Anindita Adzani
Policy Brief Pertanian, Kelautan, dan Biosains Tropika Vol. 7 No. 4 (2025): Policy Brief Pertanian, Kelautan, dan Biosains Tropika
Publisher : Direktorat Kajian Strategis dan Reputasi Akademik IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/agro-maritim.0704.1478-1485

Abstract

Pengobatan antibiotik yang tidak rasional menyebabkan resistensi antimikroba yang menyulitkan penyembuhan infeksi dan meningkatkan pengeluaran biaya kesehatan. Mengadvokasi publik tentang bahaya resistensi antimikroba adalah langkah pencegahan yang utama. Tugas dokter tidak hanya menyelenggarakan pelayanan kesehatan, tetapi juga menjadi komunikator dan pengelola program kesehatan. Studi pilot yang menguji coba program belajar daring asinkron diadakan kepada mahasiswa kedokteran untuk mengukur kapasitasnya menyusun poster advokasi publik tentang resistensi antimikroba. Meskipun mahasiswa kedokteran mampu mendesain poster yang menarik, konten poster belum disusun dengan baik. Konten poster advokasi buatan mahasiswa tidak mencerminkan spesifikasi sasaran audiens maupun pesan kunci yang menyinggung contoh tertentu dari penyalahgunaan antibiotik. Pembelajaran advokasi perlu didesain sebagai pembelajaran praktik yang mendorong mahasiswa untuk menyusun poster advokasi yang tidak hanya menarik dilihat, tetapi juga terstruktur kontennya.