Yusuf Arifin
Universitas Pasundan Bandung

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pengaruh Kepemimpinan Transformasional terhadap Kepuasan Kerja Dosen Generasi Z di Perguruan Tinggi Swasta Monika Sutarsa; Horas Djulius; Yusuf Arifin
Jurnal Ekonomi Bisnis dan Manajemen Vol. 4 No. 1 (2026): EKOBIMA: Jurnal Ekonomi Bisnis dan Manajemen - Juni 2026
Publisher : POLITEKNIK LP3I

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38204/ekobima.v4i1.3068

Abstract

This study aims to analyze the influence of transformational leadership, motivation, and competence on job satisfaction, as well as their implications for the turnover intention of Gen Z lecturers, with affective commitment serving as a moderating variable. A quantitative approach was employed, utilizing a survey method involving 212 Gen Z lecturers from private higher education institutions in the East Priangan region holding 'B' accreditation. Data analysis was conducted using Structural Equation Modeling-Partial Least Squares (SEM-PLS). The results indicate that transformational leadership, motivation, and competence all have a positive and significant effect on job satisfaction, with coefficients of 0.284, 0.351, and 0.317, respectively. Job satisfaction has a negative and significant effect on turnover intention, with a coefficient of -0.442. Furthermore, transformational leadership, motivation, and competence also exert a significant negative influence on turnover intention. Affective commitment was found to moderate the relationship between job satisfaction and turnover intention, with a coefficient of -0.271. These findings suggest that enhancing leadership quality, motivation, competence, and affective commitment can serve as effective strategies to increase job satisfaction and reduce turnover intention among Gen Z lecturers.
Strategi Pengembangan Kompetensi Validasi dan Verifikasi Tenaga Teknologi Laboratorium Medik pada Tahap Pra-Analitik dalam Meningkatkan Mutu Pelayanan Laboratorium Kesehatan di Wilayah IV Jawa Barat (Studi pada UPTD Laboratorium Kesehatan Kota Bandung) Barrianti Barrianti; M. Sidik Priadana; Yusuf Arifin
Glosains: Jurnal Sains Global Indonesia Vol. 7 No. 4 (2026): Glosains: Jurnal Sains Global Indonesia
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59784/glosains.v7i4.885

Abstract

Latar Belakang: Kesalahan pada tahap pra-analitik masih menjadi tantangan utama dalam pelayanan laboratorium karena dapat memengaruhi keakuratan hasil pemeriksaan dan keselamatan pasien. Oleh karena itu, penguatan kompetensi Tenaga Teknologi Laboratorium Medik (TTLM) dalam proses validasi dan verifikasi pra-analitik diperlukan untuk menjamin mutu pelayanan laboratorium yang konsisten. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kompetensi TTLM, mutu pelayanan laboratorium, serta hambatan pengembangan kompetensi pada proses pra-analitik di UPTD Laboratorium Kesehatan Kota Bandung. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus tunggal yang melibatkan delapan informan, terdiri atas enam TTLM, satu Kepala Instalasi, dan satu Penanggung Jawab Mutu. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur, observasi nonpartisipan, dan telaah dokumen. Analisis data dilakukan melalui proses pengodean, triangulasi, dan analisis SWOT. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompetensi TTLM telah terbentuk, tetapi penerapannya belum merata. Hambatan utama meliputi ketidakkonsistenan penerapan SOP, keterbatasan akses pelatihan dan sertifikasi, beban kerja tinggi, serta belum optimalnya sistem mentoring dan asesmen kompetensi. Analisis SWOT menunjukkan posisi organisasi berada pada kuadran Strength–Opportunity yang mendukung penyusunan strategi pengembangan kompetensi terintegrasi. Kesimpulan: Model pengembangan kompetensi TTLM yang direkomendasikan mencakup pemetaan kompetensi, pelatihan dan sertifikasi terarah, mentoring-supervisi, asesmen berkala, serta evaluasi mutu untuk meningkatkan kualitas proses pra-analitik dan keselamatan pasien. Validasi lebih lanjut pada laboratorium lain diperlukan untuk menguji penerapan model secara lebih luas.