Cora Angela
University of North Sumatera, Medan

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

MACHINE LEARNING MODELS FOR PREDICTING LIVE BIRTH IN WOMEN WITH PCOS UNDERGOING IVF/ICSI: A SYSTEMATIC REVIEW Cora Angela; Sarma Nursani Lumbanraja
Journal of Public Health Science Vol. 3 No. 2 (2026): Juni
Publisher : Yayasan Nuraini Ibrahim Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70248/jophs.v3i2.3975

Abstract

Introduction. Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) merupakan salah satu gangguan endokrin paling umum pada wanita usia reproduktif, dengan prevalensi sekitar 6–20% tergantung kriteria diagnostik yang digunakan. PCOS ditandai oleh disfungsi ovulasi, hiperandrogenisme, dan gangguan metabolik seperti resistensi insulin yang berkontribusi terhadap infertilitas. Banyak pasien PCOS memerlukan Assisted Reproductive Technology (ART), termasuk IVF dan ICSI, namun outcome utama yaitu live birth masih sulit diprediksi karena dipengaruhi banyak faktor. Perkembangan Artificial Intelligence (AI) dan Machine Learning (ML) menawarkan pendekatan baru dalam prediksi outcome klinis, namun sebagian besar model masih memiliki keterbatasan metodologis dan kurangnya validasi eksternal. Method. Penelitian ini merupakan systematic review yang bertujuan mengidentifikasi dan mengevaluasi model machine learning untuk memprediksi live birth pada pasien PCOS yang menjalani IVF/ICSI. Pencarian literatur dilakukan pada PubMed, ScienceDirect, dan OpenAlex sesuai pedoman PRISMA 2020. Result. Dari 115 studi yang diidentifikasi, tiga studi memenuhi kriteria inklusi. Model machine learning yang dilaporkan meliputi XGBoost, Random Forest, dan model berbasis regresi logistik. XGBoost menunjukkan performa terbaik dengan AUC 0,822, Random Forest dengan AUC 0,60, dan model regresi logistik sekitar AUC 0,80. Faktor prediktor yang konsisten meliputi usia, BMI, durasi infertilitas, kualitas embrio, dan parameter hormonal. Namun, seluruh studi masih terbatas pada validasi internal tanpa validasi eksternal yang memadai. Conclusion. Model machine learning menunjukkan potensi dalam memprediksi live birth pada pasien PCOS yang menjalani IVF/ICSI, namun belum terdapat model yang benar-benar superior dan tervalidasi secara luas. Diperlukan pengembangan model dengan validasi eksternal multi-center serta evaluasi risiko bias yang lebih ketat sebelum implementasi klinis.
TREATMENT OUTCOMES OF PELVIC ORGAN PROLAPSE IN WOMEN WITH FRAILTY AND COGNITIVE IMPAIRMENT: A SYSTEMATIC REVIEW Cora Angela; Corey Angela Kartarino
Journal of Public Health Science Vol. 3 No. 2 (2026): Juni
Publisher : Yayasan Nuraini Ibrahim Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70248/jophs.v3i2.3976

Abstract

Introduction. Pelvic organ prolapse (POP) merupakan kondisi yang sering ditemukan pada wanita usia lanjut dan dapat memerlukan terapi konservatif maupun pembedahan. Frailty dan gangguan kognitif termasuk faktor penting yang dapat memengaruhi hasil terapi pada populasi geriatri. Namun, bukti mengenai pengaruh kedua kondisi tersebut terhadap luaran terapi pada pasien POP masih terbatas. Tinjauan sistematis ini bertujuan untuk mengevaluasi luaran terapi pelvic organ prolapse pada wanita dengan gangguan kognitif dan/atau frailty. Method. Pencarian literatur dilakukan secara sistematis pada basis data PubMed, OpenAlex, dan ScienceDirect untuk artikel yang dipublikasikan dalam 10 tahun terakhir. Studi yang memenuhi kriteria inklusi adalah wanita dewasa dengan diagnosis POP yang memiliki gangguan kognitif dan/atau frailty serta menjalani terapi konservatif maupun pembedahan. Hasil yang dievaluasi meliputi keberhasilan atau kegagalan terapi, rekurensi POP, komplikasi, reoperasi, rawat inap ulang, mortalitas, dan kualitas hidup. Seleksi studi dilakukan berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan. Result. Dari 163 studi yang diperolah, dijumpai sebanyak dua studi yang memenuhi kriteria inklusi penelitian. Frailty secara konsisten berhubungan dengan hasil terapi yang lebih buruk. Pada studi kohort prospektif, pasien frail memiliki risiko kegagalan terapi dua kali lebih tinggi dibandingkan pasien non-frail (adjusted hazard ratio [aHR] 2,06), meskipun seluruh kelompok menunjukkan perbaikan kualitas hidup yang berkelanjutan selama masa tindak lanjut. Pada studi kohort retrospektif berskala besar, peningkatan tingkat frailty berhubungan dengan meningkatnya komplikasi pascaoperasi, termasuk infeksi saluran kemih dan komplikasi kardiovaskular, serta lama rawat inap yang lebih panjang. Kedua studi menunjukkan bahwa frailty merupakan prediktor luaran yang lebih kuat dibandingkan usia kronologis. Conclusion. Bukti menunjukkan bahwa frailty merupakan faktor penting yang memengaruhi hasil terapi pada wanita dengan POP. Integrasi penilaian frailty dalam evaluasi klinis dapat membantu stratifikasi risiko dan pengambilan keputusan terapeutik. Namun, jumlah penelitian yang tersedia masih terbatas sehingga diperlukan studi lebih lanjut untuk mengevaluasi peran frailty dan gangguan kognitif terhadap luaran terapi pada pasien POP.