The growing need for adaptable workspaces has driven the emergence of coworking spaces, including the Bandung Creative Hub (BCH), a creative public facility in Bandung. This study aims to investigate the influence of spatial design and technology on the comfort of coworking users at BCH. This study employed a descriptive qualitative approach, employing a case study method involving five to eight carefully selected active users. Information was collected through observation, semi-structured interviews, and documentation analysis. Data analysis was conducted using the framework established by Miles and Huberman, comprising three stages: data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The study's findings indicate that integrating physical and digital components significantly influences comfort in the work environment. The library was recognized as the most comfortable space due to superior lighting, an ergonomic layout, and reduced hearing loss. In contrast, the amphitheater setting was considered less conducive to comfort due to hearing loss and furniture-related constraints. From a technological perspective, reliable Wi-Fi improves the efficiency of work activities, although its performance tends to decrease during peak usage hours. This study concludes that space design and technology collectively influence user comfort at the Bandung Creative Hub.Meningkatnya kebutuhan akan ruang kerja yang dapat disesuaikan mendorong munculnya ruang kerja bersama, termasuk Bandung Creative Hub (BCH), yang berfungsi sebagai fasilitas publik kreatif di Kota Bandung. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki pengaruh desain spasial dan teknologi terhadap kenyamanan pengguna tempat kerja bersama di BCH. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, menggunakan metode studi kasus yang melibatkan lima hingga delapan pengguna aktif yang dipilih dengan cermat. Informasi dikumpulkan melalui observasi, wawancara semi-terstruktur, dan analisis dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan menggunakan kerangka kerja yang ditetapkan oleh Miles dan Huberman, yang mencakup tiga tahap: pengurangan data, presentasi data, dan penggambaran kesimpulan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa kenyamanan yang dialami di lingkungan kerja secara signifikan dipengaruhi oleh penggabungan komponen fisik dan digital. Perpustakaan diakui sebagai ruang yang paling kondusif untuk kenyamanan, disebabkan oleh pencahayaan yang superior, konfigurasi ergonomis, dan gangguan pendengaran yang berkurang. Sebaliknya, pengaturan amfiteater dinilai kurang kondusif untuk kenyamanan karena gangguan pendengaran dan kendala yang terkait dengan perabotan. Dari perspektif teknologi, Wi-Fi yang andal meningkatkan efisiensi aktivitas kerja, meskipun kinerjanya cenderung menurun selama jam penggunaan puncak. Studi ini menyimpulkan bahwa desain ruang dan teknologi secara kolektif mempengaruhi kenyamanan pengguna di Bandung Creative Hub.