Perkembangan Artificial Intelligence (AI), khususnya teknologi Generative AI, telah mengubah lanskap penelitian ilmiah, termasuk dalam bidang Studi Islam. AI tidak lagi berfungsi sekadar sebagai perangkat pencarian informasi, tetapi telah berkembang menjadi mitra intelektual yang mampu melakukan sintesis literatur, analisis data, penerjemahan, hingga penyusunan naskah akademik. Transformasi tersebut menghadirkan peluang sekaligus tantangan epistemologis karena otoritas produksi pengetahuan dalam tradisi Islam selama ini dibangun melalui integrasi wahyu (naql), akal ('aql), pengalaman empiris (tajribah), dan proses verifikasi ilmiah (tahqiq). Artikel ini bertujuan merekonstruksi metodologi Studi Islam yang adaptif terhadap perkembangan AI tanpa mengabaikan prinsip-prinsip epistemologi Islam. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan melalui analisis terhadap literatur mengenai epistemologi Islam, metodologi penelitian, filsafat ilmu, serta perkembangan AI dalam penelitian akademik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa AI memiliki kapasitas tinggi sebagai instrumen analisis, namun tidak dapat menggantikan otoritas epistemik manusia karena tidak memiliki kesadaran, intuisi moral, maupun kemampuan memahami maqāṣid al-syarī‘ah. Artikel ini mengusulkan model Hybrid Islamic Research Methodology (HIRM) yang menempatkan AI sebagai research assistant dalam seluruh tahapan penelitian, sementara validasi ilmiah tetap berada pada peneliti melalui mekanisme tabayyun, tahqiq, kritik sumber, dan penilaian berbasis epistemologi Islam. Model tersebut menawarkan paradigma metodologis baru yang mengintegrasikan kecerdasan buatan dengan tradisi keilmuan Islam secara proporsional sehingga dapat memperkuat kualitas penelitian keislaman di era digital. Temuan ini melengkapi kajian-kajian terdahulu yang umumnya berfokus pada etika penggunaan AI, dengan menawarkan kerangka metodologis yang operasional bagi penelitian Studi Islam. Perkembangan literatur mutakhir juga menunjukkan meningkatnya perhatian terhadap batas epistemologis AI dan pentingnya menjaga otoritas ilmiah manusia dalam kajian Islam.