Perkembangan teknologi digital mendorong praktisi public relations (PR) untuk beralih ke platform media sosial sebagai sarana utama membangun dan memelihara citra lembaga. Penelitian ini bertujuan menganalisis kampanye public relations yang dilaksanakan melalui akun Instagram resmi @ekraf.ri dalam membentuk citra positif sektor ekonomi kreatif di Indonesia. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, dokumentasi konten, dan studi pustaka terhadap unggahan akun @ekraf.ri pada periode Mei–Juni 2026. Analisis dilakukan menggunakan teori public relations Seven C’s of Communication Cutlip, Center, and Broom, serta teori pembentukan citra John S. Nimpoeno. Hasil penelitian menunjukkan bahwa @ekraf.ri mengimplementasikan ketujuh prinsip komunikasi secara konsisten: kredibilitas dibangun melalui status akun resmi pemerintah dengan 233 ribu pengikut dan 4.891 postingan; relevansi konteks pesan terwujud melalui kolaborasi strategis dengan BEI dalam program KreatifIPO, isi pesan yang transparan dan informatif mencerminkan kegiatan kementerian secara harian; kejelasan disampaikan melalui desain visual berbasis pertanyaan retoris, konsistensi dijaga dengan 5–6 unggahan per hari dan identitas visual biru-putih saluran dioptimalkan melalui fitur Reels dengan jangkauan 172 ribu viewers; serta kapabilitas audiens Gen Z dan Milenial diakomodasi melalui tone of voice yang santai. Perspektif teori pembentukan citra Nimpoeno menunjukkan bahwa strategi tersebut berhasil membawa audiens melalui empat tahap: persepsi, kognisi, motivasi, hingga terbentuknya citra positif berupa dukungan dan rasa bangga terhadap Ekonomi Kreatif Indonesia. Penelitian ini menegaskan bahwa keberhasilan PR digital pemerintah ditentukan bukan semata oleh jumlah postingan, melainkan kemampuan beradaptasi dengan menyesuaikan dengan audiens.