Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Akurasi Diagnostik Biomarker Stres Oksidatif, Profil Sitokin, dan Defisiensi Vitamin D dalam Memprediksi Derajat Preeklamsia: Sebuah Tinjauan Sistematis dan Meta-Analisis Raden Roro Pratiwi Madya Putri; Himmi Marsiati; Dicky Budiman; Sri Wuryanti
Journal of Innovative and Creativity (Joecy) Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v6i2.11978

Abstract

Latar Belakang: Preeklamsia merupakan sindrom multiorgan yang menjadi penyebab utama mortalitas maternal secara global akibat disfungsi endotel sistemik. Meskipun skrining dini preeklamsia telah diterapkan pada pelayanan kesehatan primer pada saat trimester 1 dan 3, angka kejadian kasus kegawatdaruratan pada trimester ketiga tetap tinggi akibat adanya diskrepansi hasil pemeriksaan protein urin dan variabilitas kompetensi diagnostik tenaga kesehatan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi akurasi diagnostik kombinasi biomarker stres oksidatif, profil sitokin, dan defisiensi vitamin D dalam memprediksi tingkat derajat keparahan preeklamsia. Metode: Tinjauan sistematis dan meta-analisis ini telah dilakukan dengan menelaah artikel ilmiah dari pangkalan data elektronik melalui pendekatan bivariat. Objek penelitian difokuskan pada ibu hamil dengan risiko preeklamsia yang dinilai berdasarkan kadar parameter biologis serta faktor gaya hidup berupa paparan sinar matahari. Hasil: Analisis menunjukkan bahwa integrasi nilai malondialdehyde dan rasio sitokin pro-inflamasi memiliki sensitivitas serta spesifisitas yang tinggi dalam mendeteksi kerusakan endotel awal. Penurunan kadar vitamin D aktif terbukti secara signifikan memperberat inflamasi plasenta. Faktor luar seperti durasi berjemur yang kurang dari lima belas menit sehari ditemukan meningkatkan risiko defisiensi vitamin D pada ibu hamil. Gaya berpakaian yang terlalu tertutup tanpa kompensasi suplemen juga membatasi sintesis vitamin D3 oleh sinar ultraviolet B. Karakteristik nutrisi yang buruk dari makanan harian dilaporkan memperparah kondisi hipoksia jaringan. Penilaian ulang terhadap kompetensi tenaga kesehatan dalam melakukan anamnesis terbukti mendesak untuk ditingkatkan. Standardisasi uji protein urin menggunakan metode konfirmasi ulang (duplo) efektif menekan angka negatif palsu di fasilitas kesehatan tingkat pertama. Pelatihan ultrasonografi emergensi bagi dokter umum di unit gawat darurat terbukti mempercepat ketepatan rujukan kasus. Kesimpulan: Kombinasi biomarker molekuler dan penapisan faktor gaya hidup ditemukan akurat sebagai instrumen prediksi preeklamsia. Fasilitas kesehatan disarankan menerapkan standardisasi pemeriksaan laboratorium dan meningkatkan pelatihan klinis bagi dokter umum. Implikasi: Penerapan skrining berbasis biomarker dan edukasi preskripsi berjemur yang terukur dapat menurunkan angka keterlambatan rujukan serta menekan mortalitas pasien preeklamsia secara nyata di rumah sakit.