Parino Parino
Universitas Islam Yasni Bungo Jambi

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

PROBLEMATIKA GURU KELAS DALAM PELAKSANAAN PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SD NEGERI 142/II BUNGO PROBLEMS OF CLASSROOM TEACHERS IN THE IMPLEMENTATION OF INDONESIAN LANGUAGE LEARNING AT SD NEGERI 142/II BUNGO Parino Parino; Yanfaunnas Yanfaunnas; Halimatus Sa'diah
Daiwi Widya Vol 13, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Panji Sakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37637/dw.v13i1.2893

Abstract

Penelitian ini mengkaji problematika guru kelas dalam pelaksanaan pembelajaran Bahasa Indonesia di SD Negeri 142/II Bungo, Kabupaten Bungo. Latar belakang masalah berpijak pada rendahnya kompetensi literasi siswa Indonesia sebagaimana tercermin dari hasil PISA 2022, ditambah kompleksitas tugas guru kelas yang mengampu lintas mata pelajaran di tengah dominasi penggunaan bahasa daerah dan keterbatasan sarana. Tujuan penelitian adalah mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran, mengidentifikasi hambatan pada tahap perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi, serta menganalisis upaya adaptif guru dalam mengatasinya. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam dengan guru kelas dan kepala sekolah, serta analisis dokumen pembelajaran di SD Negeri 142/II Bungo. Analisis data mengikuti model interaktif Miles dan Huberman dengan triangulasi sumber dan metode untuk menjamin validitas. Hasil menunjukkan pembelajaran masih teacher-centered dengan dominasi metode ceramah, ketergantungan buku teks, dan interaksi satu arah. Hambatan utama meliputi perencanaan yang kurang diferensiatif, minimnya variasi media, pengelolaan kelas heterogen, evaluasi yang terfokus pada tes tertulis, serta interferensi bahasa daerah. Guru melakukan diversifikasi metode secara bertahap, optimalisasi media sederhana, pembiasaan Bahasa Indonesia, serta penguatan melalui KKG. Penelitian merekomendasikan pengembangan media lokal, pelatihan diferensiasi, dan penguatan literasi berbasis komunitas