Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Miskonsepsi Publik Terhadap Pengguna Cadar Sebagai Isu Radikalisme Aina Musyaffa; Zaka Vikryan
Journal of Innovative and Creativity (Joecy) Vol. 4 No. 3 (2024)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis terbentuknya miskonsepsi publik terhadap perempuan bercadar yang kerap dikaitkan dengan isu radikalisme dan terorisme, serta mengkaji bagaimana pendekatan komunikasi keagamaan Ibnu Taimiyah dan Muhammad Abduh dapat digunakan sebagai kerangka analisis dalam memahami serta mengkritisi fenomena yang terjadi. Dalam konteks masyarakat Indonesia, cadar pada dasarnya merupakan ekspresi religious dan bentuk penjagaan kehormatan diri perempuan muslim menalami distorsi makna akibat konstruksi sosial, framing media serta narasi keamanan yang berkembang di ruang publik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi Pustaka melalui pengumpulan dan analisis sumber-sumber primer serta sekunder yang relevan dengan penelitian. Untuk menjaga keabsahan data, penelitian ini menerapkan triangulasi teori dengan membandingkan perspektif tekstual-normatif Ibnu Taimiyah dengan pendekatan kontekstual-rasional Muhammad Abduh. Hasil kajian menunjukkan bahwa miskonsepsi publik berakar pada kegagalan membedakan makna teologis cadar dengan konstruksi sosial yang dilekatkan, sehingga simbol keagamaan tersebut direduksi menjadi penanda kecurigaan serta ancaman keamanan. Ketimpangan pola komunikasi keagamaan di ruang publik, yang didominasi oleh opini publik serta pemberitaan media daripada pemahaman normative serta pengalaman pelaku simbol kegamaan, turut memperkuat stigma negatif terhadap perempuan bercadar. Oleh karena itu, penelitian ini menawarkan model komunikasi keagamaan integratif yang memadukan pendekatan normative dengan kontekstual sebagai upaya membangun pemahaman yang lebih adil, proporsional serta dialogis terhadap simbol keagamaan dan juga meminimalkan stigma serta prasangka sosial.