Astri Siti Fatonah
Universitas Islam Al-Ihya Kuningan

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Luka Psikososial sebagai Pemicu Pola Pikir Radikalisme pada Remaja Astri Siti Fatonah; Zaka Vikryan
Journal of Innovative and Creativity (Joecy) Vol. 4 No. 3 (2024)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana luka psikososial pada remaja berperan sebagai akar kerentanan kognitif yang meningkatkan risiko internalisasi narasi ekstrem sebelum keterikatan ideologi terbentuk secara eksplisit. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi pustaka, yang memungkinkan analisis sistematis terhadap literatur terkait radikalisme remaja, trauma psikososial, dan perkembangan kognitif-afektif. Metode analisis tematik diterapkan untuk mengidentifikasi pola konseptual dan hubungan sebab-akibat antara pengalaman sosial yang merugikan, pembentukan pola pikir biner, kebutuhan afiliasi mutlak, dan kecenderungan remaja untuk bergabung dengan kelompok yang menawarkan kepastian identitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalaman penolakan, pengabaian emosional, perundungan, atau kekerasan dalam keluarga membentuk saringan mental yang membuat remaja lebih menekankan rasa aman, pengakuan, dan penerimaan instan dibanding kualitas logika atau analisis kontekstual. Pola pikir biner ini berfungsi sebagai strategi adaptif untuk menghadapi ketidakpastian sosial, namun sekaligus meningkatkan kerentanan terhadap radikalisasi awal. Selain itu, kebutuhan afiliasi yang tidak terpenuhi mendorong pencarian ruang kelompok yang memberikan identitas tunggal, kohesi instan, dan batas kebenaran yang jelas. Strategi pencegahan radikalisme sebaiknya menekankan rekonstruksi skema kognitif melalui pengalaman sosial aman, pembiasaan berpikir reflektif, dan penguatan dimensi afektif melalui pendidikan keagamaan yang mendorong dialog kritis dan kohesi sosial positif. Temuan ini menegaskan bahwa radikalisme pada remaja lebih tepat dipahami sebagai respons kognitif-afektif terhadap luka psikososial, bukan sekadar akibat paparan doktrin ideologi, sekaligus membuka arah penelitian lanjutan untuk intervensi berbasis kognitif-afektif pada fase awal pembentukan identitas remaja.