Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses pembentukan identitas kolektif komunitas suporter La Grande Indonesia dalam praktik dukungan terhadap Tim Nasional Indonesia pada ajang Kualifikasi Piala Dunia 2026. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan teori identitas kolektif Taylor dan Whittier yang meliputi group boundary, collective consciousness, dan negotiation, serta didukung konsep solidaritas mekanik Émile Durkheim. Hasil penelitian menunjukkan bahwa identitas kolektif komunitas La Grande Indonesia berawal dari kesamaan minat, kecintaan, dan loyalitas terhadap Tim Nasional Indonesia yang berkembang menjadi kesadaran bersama (collective consciousness). Kesadaran tersebut mendorong terbentuknya batas kelompok (group boundary) melalui penggunaan simbol, atribut berwarna merah, pemilihan tribun utara sebagai ruang dukungan, serta gaya dukungan yang khas. Dalam prosesnya, identitas kolektif terus dibentuk dan dipertahankan melalui berbagai bentuk negosiasi, baik di antara anggota komunitas maupun dengan pihak eksternal. Praktik dukungan yang dilakukan secara kolektif dan berulang, seperti koreografi, chant, perjalanan dukungan, dan aktivitas komunitas lainnya, menghasilkan rasa saling memiliki (sense of belonging) yang semakin kuat. Kondisi tersebut kemudian memperkuat solidaritas mekanik yang ditandai oleh loyalitas, kebersamaan, komitmen kolektif, dan hubungan sosial yang erat antaranggota komunitas.