Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Selfcare Agensi pada Anak Berkebutuhan Khusus di Sekolah Luar Biasa Desa Hamparan Perak, Kecamatan Hamparan Perak Ira Maulani Lubis; Roy Wilson Sihaloho
Journal of Innovative and Creativity (Joecy) Vol. 5 No. 1 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Anak berkebutuhan khusus (ABK) menghadapi tantangan signifikan dalam mengembangkan kemandirian perawatan diri (selfcare agency). Kemampuan selfcare yang optimal merupakan fondasi penting bagi kualitas hidup dan partisipasi sosial ABK. Sekolah Luar Biasa (SLB) memegang peran strategis dalam memfasilitasi pengembangan selfcare agency melalui program pendidikan khusus yang terstruktur. Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi gambaran selfcare agency pada anak berkebutuhan khusus di SLB Desa Hamparan Perak, Kecamatan Hamparan Perak. Metode: Penelitian menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Populasi berjumlah 68 orang tua/wali ABK yang bersekolah di SLB Hamparan Perak. Sampel diambil menggunakan teknik total sampling sehingga seluruh populasi menjadi responden (N=68). Instrumen yang digunakan adalah kuesioner Appraisal of Self-Care Agency (ASA-A) yang telah dimodifikasi dan divalidasi sesuai konteks ABK di Indonesia (nilai Content Validity Index/CVI=0,92; Cronbach’s Alpha=0,87). Data dikumpulkan pada 21 Januari–30 April 2025 dan dianalisis menggunakan analisis univariat. Hasil: Karakteristik responden menunjukkan mayoritas berusia 10–15 tahun (44,1%), berjenis kelamin laki-laki (57,4%), dengan diagnosis tunagrahita (41,2%). Hasil analisis menunjukkan 36 responden (52,9%) memiliki selfcare agency dalam kategori rendah, 22 responden (32,4%) kategori sedang, dan 10 responden (14,7%) kategori tinggi. Komponen yang paling lemah adalah domain estimasi kognitif (52,9% rendah). Kesimpulan: Mayoritas ABK di SLB Hamparan Perak memiliki selfcare agency kategori rendah, terutama pada aspek kemampuan kognitif dalam merencanakan perawatan diri. Intervensi terintegrasi antara sekolah, keluarga, dan tenaga kesehatan sangat diperlukan untuk meningkatkan selfcare agency ABK.
Effect Of Mental Workload And Moral Sensitivity On Nurse Performance In The Acute Inpatient Room Of The Prof. Dr. M. Ildrem Mental Hospital, Medan Esther Simatupang; Siti Saidah Nasution; Elmeida Effendy; Roy Wilson Sihaloho
International Journal of Medicine and Health Vol. 3 No. 1 (2024): March : International Journal of Medicine and Health (IJMH)
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/ijmh.v3i1.2977

Abstract

Objectives: High mental workload can decrease nurse performance. Nurses with higher moral sensitivity are ethically more practicing professionals and the quality of care is better. This study assesses effect of Mental Workload and Moral Sensitivity on Nurse Performance in the Acute Inpatient Room of the Prof. Dr. M. Idrelm Mental Hospital Medan in Indonesia . Methods: The study used a cross-sectional design, sampel number of 58 nurses in acutel inpatient room through total sampling. NASA-TLX Questionnaires for Mental Workload, Moral Sensitivity Questionnaires for Moral Sensitivity and Individual Work Performance Questionnaires for Nurse Performance. Analyzed data using the Statistical Package for social Science (SPSS) version 26 software. Descriptive statistics, Pearson test and multiple linear regression analysis to measure its effect. A p-vaule of < 0.05 was considered statistically significant at a 95% confidence level. Result: Majority of participant had a high level of mental workload (86.2%), high level of moral sensitivity (58.6%) and had good level of performance (53.4%). Further, there is no correlation mental workload with nurses performance (p = 0.350), but moral sensitivity significantly correlated with nurses performance (p = 0.041). Conclusion: Nurse has level mental workload high indicate prone to fatique and burnout, but they have good performance because they have adapted to the existing work situation. This is supported by high moral sensitivity so that nurses feel very responsible for their profession.
Selfcare Agensi pada Anak Berkebutuhan Khusus di Sekolah Luar Biasa Desa Hamparan Perak, Kecamatan Hamparan Perak Ira Maulani Lubis; Roy Wilson Sihaloho
Journal of Innovative and Creativity (Joecy) Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v6i2.12616

Abstract

Latar Belakang: Anak berkebutuhan khusus (ABK) menghadapi tantangan signifikan dalam mengembangkan kemandirian perawatan diri (selfcare agency). Kemampuan selfcare yang optimal merupakan fondasi penting bagi kualitas hidup dan partisipasi sosial ABK. Sekolah Luar Biasa (SLB) memegang peran strategis dalam memfasilitasi pengembangan selfcare agency melalui program pendidikan khusus yang terstruktur. Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi gambaran selfcare agency pada anak berkebutuhan khusus di SLB Desa Hamparan Perak, Kecamatan Hamparan Perak. Metode: Penelitian menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Populasi berjumlah 68 orang tua/wali ABK yang bersekolah di SLB Hamparan Perak. Sampel diambil menggunakan teknik total sampling sehingga seluruh populasi menjadi responden (N=68). Instrumen yang digunakan adalah kuesioner Appraisal of Self-Care Agency (ASA-A) yang telah dimodifikasi dan divalidasi sesuai konteks ABK di Indonesia (nilai Content Validity Index/CVI=0,92; Cronbach’s Alpha=0,87). Data dikumpulkan pada 21 Januari–30 April 2025 dan dianalisis menggunakan analisis univariat. Hasil: Karakteristik responden menunjukkan mayoritas berusia 10–15 tahun (44,1%), berjenis kelamin laki-laki (57,4%), dengan diagnosis tunagrahita (41,2%). Hasil analisis menunjukkan 36 responden (52,9%) memiliki selfcare agency dalam kategori rendah, 22 responden (32,4%) kategori sedang, dan 10 responden (14,7%) kategori tinggi. Komponen yang paling lemah adalah domain estimasi kognitif (52,9% rendah). Kesimpulan: Mayoritas ABK di SLB Hamparan Perak memiliki selfcare agency kategori rendah, terutama pada aspek kemampuan kognitif dalam merencanakan perawatan diri. Intervensi terintegrasi antara sekolah, keluarga, dan tenaga kesehatan sangat diperlukan untuk meningkatkan selfcare agency ABK