Ersya Maisarah
Universitas Negeri Yogyakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Relevansi Pemikiran Pendidikan Ibnu Khaldun Pada Kurikulum Merdeka Berbasis Deep Learning Dalam Mata Pelajaran Sejarah Ersya Maisarah; Fidia Nurkhairunnisa; Miftahuddin Miftahuddin
Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 11 No 1 (2026): Sajaratun: Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Flores

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37478/sajaratun.v11i1.8215

Abstract

Kesenjangan antara realitas pembelajaran sejarah di lapangan yang masih didominasi oleh metode hafalan pasif, dengan tuntutan pendidikan abad ke-21 dan Kurikulum Merdeka yang menghendaki pembelajaran mendalam (deep learning) guna membentuk pemahaman kritis dan penalaran historis peserta didik. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan menganalisis relevansi pemikiran pendidikan Ibnu Khaldun terhadap implementasi Kurikulum Merdeka berbasis Deep Learning dalam mata pelajaran Sejarah. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan desain studi kepustakaan (library research) dengan teknik pengumpulan data melalui dokumentasi dan teknik analisis data dilakukan dengan analisis isi (content analysis) yang dipadukan dengan pendekatan hermeneutika . Hasil penelitian menunjukkan relevansi yang kuat. Filosofi Khaldun yang menekankan pentingnya kontekstualisasi sejarah, pengajaran bertahap (tadarruj), dan perlunya guru menguasai materi secara mendalam (malakah) selaras dengan Kurikulum Merdeka yang mengutamakan pembelajaran yang bermakna (deep learning), diferensiasi, dan penguatan pemahaman kontekstual (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila). Secara khusus, konsep malakah Ibnu Khaldun relevan dengan Deep Learning dalam pembelajaran Sejarah, karena mendorong siswa untuk tidak hanya menghafal fakta, tetapi mencapai internalisasi mendalam yang membentuk kemampuan analisis, sintesis, dan penalaran historis, sejalan dengan tujuan Kurikulum Merdeka. Penerapan model Deep Learning dapat menjadi alat untuk mewujudkan tujuan pendidikan Khaldun dalam konteks kurikulum modern. Integrasi pemikiran pendidikan Ibnu Khaldun khususnya kritik terhadap metode hafalan dan konsep malakah memberikan landasan filosofis yang kuat bagi implementasi Kurikulum Merdeka berbasis Deep Learning pada mata pelajaran Sejarah untuk mentransformasi pembelajaran pasif menjadi proses aktif yang mengembangkan kemampuan berpikir kritis, analitis, dan karakter peserta didik secara holistik.  
ANALISIS EMPATI SEJARAH DALAM NARASI TEKS REFLEKTIF BUKU TEKS SEJARAH SMA KELAS XI KURIKULUM MERDEKA Mursyid Habib; Rhoma Dwi Aria Yuliantri; Ersya Maisarah
Jurnal Pendidikan Sejarah Indonesia Vol 9, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um0330v9i1p148-160

Abstract

Pembelajaran sejarah memiliki peran strategis dalam mengembangkan empati sejarah (historical empathy) di era digital yang terpolarisasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis secara sistematis representasi lima nilai empati sejarah serta menguji kualitas narasi reflektif dalam buku teks Sejarah SMA Kelas XI Kurikulum Merdeka terbitan Kemendikbud. Melalui metode studi literatur dan analisis isi (content analysis), data diuji menggunakan validitas semantik dan reliabilitas stabilitas. Hasil penelitian mengidentifikasi 29 unit narasi reflektif dengan keterbatasan serius. Kode A (perspektif kontekstual) mendominasi dengan 22 narasi, namun Kode B (sumber primer) tidak ditemukan sama sekali (0%), dan Kode C (imajinasi simpatik) hanya terpenuhi pada 7 narasi yang mayoritas diletakkan pada instruksi aktivitas. Selain itu, distribusi nilai tidak proporsional, di mana nilai peduli sosial paling dominan sementara toleransi dan cinta damai sangat terbatas. Disimpulkan bahwa buku teks ini belum optimal sebagai media mandiri pembentuk empati sejarah di tengah transisi kebijakan ke Profil Lulusan (Permendikdasmen No. 10/2025). Implikasinya, pengembangan buku teks masa depan wajib mengintegrasikan sumber primer autentik dan penguatan narasi imajinatif langsung di dalam teks utama.