Wacana tentang disiplin dan kebebasan dalam pendidikan merupakan salah satu persoalan mendasar yang terus diperdebatkan, terutama dalam konteks sistem pendidikan yang cenderung memprioritaskan kepatuhan atas kreativitas dan otonomi anak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi disiplin dan kebebasan anak dalam novel Totto-chan:gadis cilik di jendela karya Tetsuko Kuroyanagi melalui tiga fokus utama: (1) mekanisme disiplin Foucault yang bekerja dalam representasi sekolah konvensional, (2) relasi kuasa yang membentuk identitas tokoh, dan (3) fungsi Tomoe Gakuen sebagai heterotopia yang menawarkan model kebebasan alternatif. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif-interpretatif dengan kerangka metodologis genealogi kekuasaan Michel Foucault, meliputi Discipline and Punish (1977) dan The Archaeology of Knowledge (1972). Pengumpulan data dilakukan melalui metode baca-catat dan analisis data dilaksanakan melalui tiga tahap: reduksi data, analisis wacana, serta sintesis temuan. Hasil analisis menunjukkan bahwa sekolah konvensional dalam novel berfungsi melalui mekanisme pendisiplinan tubuh, pengawasan penopik, dan normalisasi yang secara sistematis mengeksklusi anak-anak yang tidak sesuai dengan standar institusional. Sebaliknya, Tomoe Gakuen hadir sebagai heterotopia, yakni ruang yang nyata yang berperan sebagai counter-site terhadap sistem pendidikan formal, di mana kebebasan dikonstruksi sebagai praktik yang dipandu oleh nilai-nilai kolektif, bukan dari tekanan dari luar. Temuan ini menegaskan bahwa dikotomi antara disiplin dan kebebasan dalam pendidikan perlu dibaca ulang secara kritis dan memiliki relevansi tinggi dengan wacana pendidikan inklusif serta kebijakan Merdeka Belajar di Indonesia.