Abstrak
Tujuan dari pelatihan revolusi mental (revmen) adalah meningkatnya kompetensi ASN yang mampu memberikan pelayanan publik yang berkualitas sehingga dampak dari pelatihan ini bisa terlihat efeknya pada diri pribadi, maupun organisasi yang dikaitkan dengan nilai-nilai revolusi mental setelah pelatihan tersebut dilaksanakan. Tujuan penelitian ini untuk 1) mengetahui keberlanjutan revolusi cara kerja alumni peserta pelatihan Revmen; 2) menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi keberlanjutan atau ketidakberlanjutan revolusi cara kerja peserta, 3) mengetahui perubahan-perubahan yang terjadi pasca pelatihan. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif-kualitatif. Data diperoleh dari hasil wawancara kepada semua alumni revolusi mental yang ada di Puslatbang KMP. Hasil penelitian menemukan bahwa dari dua belas revolusi kerja, yang masih berlanjut sembilan revolusi kerja dan tiga revolusi kerja tidak mencapai target. Adapun faktor penghambat keberlanjutan mereka disebabkan oleh karakteristik individu, organisasi atau lingkungan kerja (rekan kerja, atasan, peralatan kerja, dan beban kerja), dan faktor terakhir adalah pelatihan. Perubahan pasca pelatihan terlihat dari dua hal, pertama, perubahan sikap dan perilaku dalam melihat atau memaknai pekerjaan, kedua perubahan hasil atau kualitas kerja. Hanya saja, temuan dari penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa umumnya keberlanjutan proyek perubahan mereka hanya pada tingkat capaian jangka pendek atau berhenti pada saat alumni menjadi peserta pelatihan. Faktor yang mempengaruhi keberlanjutan proyek perubahan alumni adalah kualitas dari proyek perubahan, keberadaan milestone capaian jangka menengah dan panjang, dukungan pimpinan (mentor), mutasi dan tim yang efektif.