Ika Noor Rohma
UIN Sunan Kalijaga

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

DEKONSTRUKSI CANCEL CULTURE DIGITAL: ANALISIS SEMIOTIK ROLAND BARTHES ATAS Q.S AL-HUJURAT: 12 Ika Noor Rohma
Amsal Al-Qur’an: Jurnal Al-Qur’an dan Hadis Vol. 3 No. 2 (2026): Juli
Publisher : Yayasan Baitul Hikmah al-Zain

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63424/amsal.v3i2.697

Abstract

Abstract. Cancel culture in Indonesia reflects a massive collective moral punishment mechanism, yet often overlooks clear data verification principles. This study examines Q.S Al-Hujurat verse 12 using Roland Barthes' Two Order of Signification semiotic approach. The verse contains prohibitions against zann (prejudice), tajassus (spying/fault-finding), and ghibah (backbiting) to safeguard human dignity, especially in the digital era. This qualitative library research uses semiotic analysis to highlight denotative and connotative meanings, which ultimately give rise to myths. The results indicate that at the denotative level, the sacred text serves as basic moral regulation. At the connotative level, it shifts into digital persecution due to massive zann, tajassus, and ghibah in digital spaces. The culmination is the formation of the 'netizens as absolute enforcers of justice' myth, normalizing simbolyc violence under the guise of nahi munkar.  Abstrak. Cancel culture di Indonesia mencerminkan mekanisme penghukuman moral kolektif yang massif, namun sering mengabaikan prinsip verifikasi data secara jelas. Penelitian ini mengkaji Q.S Al-Hujurat ayat 12 menggunakan pendekatan semiotika Two Order of Signification yang dikembangkan oleh Roland Barthes. Ayat tersebut berisi larangan zann (berprasangka), tajassus (mencari kesalahan/aib), dan ghibah (menggunjing) sebagai penjagaan terhadap martabat manusia, khususnya di era digital. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research) dan analisis semiotika yang menyoroti makna denotatif dan konotatif yang pada akhirnya melahirkan mitos. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada level makna denotasi, teks suci merupakan bagian dari regulasi moral dasar. Pada makna konotasi, teks suci bergeser menjadi persekusi digital adanya zann, tajassus, dan ghibah yang massif dilakukan dalam ruang digital. Puncaknya adalah terbentuknya mitos “netizen sebagai penegak keadilan absolut” yang banyak menormalisasikan kekerasan simbolik dibalik narasi nahi munkar.