Endang Pratiwi Rausy
Universitas Halu Oleo

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis Risiko Keselamatan Proyek Gedung Pesantren di Indonesia: Sistematic Literatur Review (2015-2024) Endang Pratiwi Rausy; Agustan Agustan
Portal: Jurnal Teknik Sipil Vol 18, No 1 (2026): April Edition
Publisher : Politeknik Negeri Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30811/portal.v18i1.8654

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tingginya risiko Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) pada proyek pembangunan gedung pesantren di Indonesia, yang umumnya dikelola secara berbasis komunitas dengan keterbatasan anggaran dan pengawasan institusional. Meskipun regulasi nasional melalui Sistem Manajemen Keselamatan Konstruksi (SMKK) telah diperkuat, kecelakaan kerja masih banyak dipengaruhi oleh faktor non-teknis. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi kategori risiko K3 yang dominan serta menganalisis implikasi manajerialnya pada proyek gedung pesantren periode 2015–2024. Metode yang digunakan adalah Systematic Literature Review (SLR) dengan protokol PRISMA terhadap 30 jurnal nasional terakreditasi SINTA yang diperoleh dari Garuda, Google Scholar, Neliti, dan repositori institusi. Risiko diklasifikasikan ke dalam kategori teknis dan non-teknis pada dimensi internal, eksternal, dan proyek, kemudian dianalisis secara sintesis berbasis frekuensi. Hasil menunjukkan bahwa risiko non-teknis mendominasi permasalahan K3 sebesar 65,9% dari seluruh kemunculan risiko. Risiko internal non-teknis (34,1%) terutama terkait rendahnya kesadaran K3, ketidakpatuhan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD), dan lemahnya pengawasan. Risiko eksternal non-teknis (31,8%) dipengaruhi oleh cuaca ekstrem, ketidakpastian regulasi, dan keterbatasan sosial-ekonomi. Risiko teknis hanya menyumbang 20,5%, menunjukkan bahwa akar masalah K3 lebih bersifat manajerial dan perilaku daripada teknis. Disimpulkan bahwa peningkatan kinerja K3 harus diarahkan pada penguatan sistem manajemen dan budaya keselamatan kerja. Penelitian ini merekomendasikan pelatihan berkelanjutan, audit keselamatan rutin, serta pemanfaatan teknologi monitoring sederhana. Temuan ini mengimplikasikan perlunya model K3 yang adaptif dan inklusif bagi proyek pesantren agar keselamatan pekerja terjamin tanpa mengganggu keberlanjutan sosial dan ekonomi proyek.
Evaluasi Kepadatan Lapisan Tanah Menggunakan Metode Sand Cone: Studi Kasus pada Ruas Jalan Kancebungi Liana Banggai, Desa Gundu-Gundu Endang Pratiwi Rausy; Minson Simatupang Hasmina Tari Mokui
Portal: Jurnal Teknik Sipil Vol 17, No 2 (2025): October Edition
Publisher : Politeknik Negeri Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30811/portal.v17i2.8227

Abstract

Pemadatan tanah dasar merupakan salah satu tahap paling krusial dalam pekerjaan konstruksi jalan karena berpengaruh langsung terhadap kekuatan, kestabilan, dan daya dukung lapisan perkerasan. Tanah dasar yang memiliki derajat kepadatan rendah dapat menyebabkan deformasi, retak, atau penurunan permukaan jalan. Oleh karena itu, evaluasi terhadap tingkat kepadatan lapangan perlu dilakukan untuk memastikan kesesuaian dengan standar teknis yang berlaku. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi tingkat kepadatan lapisan tanah menggunakan metode Sand Cone pada ruas Jalan Kancebungi Liana Banggai, Desa Gundu-Gundu, serta menganalisis variasi nilai derajat kepadatan di setiap stasiun pengujian sebagai indikator keseragaman pemadatan. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif deskriptif, dengan pelaksanaan uji lapangan berdasarkan SNI 03-2828-2011 dan ASTM D1556-00, serta uji Standard Proctor di laboratorium sebagai pembanding. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai derajat kepadatan tanah bervariasi antara 77,03% hingga 101,56%, di mana hanya stasiun STA 1+600 yang memenuhi standar minimal ≥95%. Variasi ini dipengaruhi oleh perbedaan jenis dan sifat tanah, kadar air, intensitas alat pemadat, serta faktor lingkungan seperti kelembapan dan topografi lokasi. Analisis menunjukkan bahwa kadar air yang tidak optimum mengurangi efisiensi pemadatan dan menghasilkan distribusi kepadatan yang tidak seragam. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa keberhasilan pemadatan sangat bergantung pada keseragaman material, pengendalian kadar air mendekati nilai optimum, dan penerapan metode pemadatan yang konsisten. Penelitian ini merekomendasikan pemadatan ulang pada titik di bawah standar, peningkatan pengawasan mutu lapangan, serta penerapan monitoring kadar air dan tekanan alat pemadat secara real time untuk menjamin mutu dan stabilitas tanah dasar pada proyek jalan di wilayah tropis lembap.