Bhanad Shofa Kurniawan
Rumah Tahanan Negara Kelas I Surakarta, Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan Republik Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PERAN PEMBINAAN BERBASIS SENI DAN BUDAYA DALAM MENDORONG PERUBAHAN PERILAKU POSITIF WARGA BINAAN : STUDI KASUS DI RUMAH TAHANAN NEGARA KELAS I SURAKARTA Bhanad Shofa Kurniawan; Ade Novita Pramodatiara
Jurnal Dinamika Sosial dan Sains Vol. 2 No. 11 (2025): Jurnal Dinamika Sosial dan Sains
Publisher : CV.Sentral Bisnis Manajemen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.60145/jdss.v2i11.293

Abstract

Sistem pemasyarakatan di Indonesia mengedepankan paradigma rehabilitasi dan reintegrasi sosial melalui proses pembinaan yang bertujuan membentuk perubahan perilaku warga binaan agar mampu kembali berfungsi sebagai anggota masyarakat yang bertanggung jawab. Namun, berbagai permasalahan, seperti overkapasitas, keterbatasan sumber daya, serta kompleksitas karakteristik warga binaan, masih menjadi tantangan dalam mewujudkan pembinaan yang efektif. Kondisi tersebut menuntut adanya pendekatan pembinaan yang lebih humanis, kontekstual, dan berorientasi pada pengembangan potensi individu. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran pembinaan berbasis seni dan budaya dalam mendorong perubahan perilaku positif warga binaan di Rumah Tahanan Negara Kelas I Surakarta. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña yang meliputi kondensasi data, penyajian data, serta penarikan dan verifikasi kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembinaan berbasis seni dan budaya berkontribusi terhadap peningkatan disiplin, tanggung jawab, kemampuan bekerja sama, pengendalian emosi, rasa percaya diri, serta kesadaran moral warga binaan. Integrasi seni, budaya lokal, pendidikan karakter, pembinaan keagamaan, dan pelatihan keterampilan mampu menciptakan lingkungan pembelajaran yang lebih partisipatif, membangun identitas positif, serta memperkuat kesiapan warga binaan untuk kembali berintegrasi dengan masyarakat. Kebaruan penelitian ini terletak pada analisis pembinaan berbasis seni dan budaya sebagai mekanisme rehabilitasi yang mengintegrasikan nilai budaya lokal, pembelajaran sosial, pendidikan karakter, dan pengembangan keterampilan dalam membentuk perubahan perilaku warga binaan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pembinaan berbasis seni dan budaya merupakan pendekatan rehabilitatif yang efektif dan berpotensi menjadi alternatif penguatan kebijakan pembinaan pemasyarakatan yang lebih humanis, kontekstual, dan berorientasi pada keberhasilan reintegrasi sosial
NEGOSIASI SUBJEKTIVITAS MELALUI PEMBINAAN BERBASIS SENI DAN BUDAYA: TRANSFORMASI PERILAKU WARGA BINAAN DI RUMAH TAHANAN NEGARA KELAS I SURAKARTA Bhanad Shofa Kurniawan; Ade Novita Pramodatiara
Jurnal Dinamika Sosial dan Sains Vol. 3 No. 1 (2026): Jurnal Dinamika Sosial dan Sains
Publisher : CV.Sentral Bisnis Manajemen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.60145/jdss.v3i1.309

Abstract

Sistem pemasyarakatan di Indonesia berorientasi pada rehabilitasi dan reintegrasi sosial warga binaan. Namun, kajian mengenai pembinaan berbasis seni dan budaya masih didominasi oleh perspektif hukum, psikologi, dan pelatihan keterampilan, sehingga belum banyak menjelaskan bagaimana praktik budaya membentuk identitas dan perubahan perilaku warga binaan. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran seni dan budaya sebagai praktik budaya dalam membentuk transformasi perilaku dan identitas warga binaan di Rumah Tahanan Negara Kelas I Surakarta. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan paradigma konstruktivis dan perspektif Cultural Studies. Data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña. Analisis didasarkan pada teori identitas Stuart Hall, teori relasi kuasa Michel Foucault, konsep Third Space Homi K. Bhabha, dan teori stigma Erving Goffman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembinaan berbasis seni dan budaya tidak hanya meningkatkan keterampilan warga binaan, tetapi juga membentuk disiplin, memperkuat nilai spiritual, meningkatkan kepercayaan diri, serta mendorong rekonstruksi identitas melalui proses produksi makna budaya. Praktik seni menjadi ruang negosiasi identitas yang memungkinkan warga binaan membangun subjektivitas baru sebagai individu yang kreatif, produktif, dan bertanggung jawab. Meskipun demikian, proses transformasi tersebut masih menghadapi tantangan berupa stigma sosial yang berpotensi menghambat reintegrasi setelah warga binaan kembali ke masyarakat. Penelitian ini menegaskan bahwa seni dan budaya merupakan strategi pembinaan yang bersifat transformatif karena tidak hanya berfungsi sebagai media rehabilitasi, tetapi juga sebagai praktik budaya yang membentuk identitas, subjektivitas, dan kesiapan reintegrasi sosial warga binaan. Temuan ini memperkaya kajian pemasyarakatan melalui perspektif Cultural Studies serta memberikan implikasi bagi pengembangan kebijakan pembinaan yang lebih humanis dan berbasis budaya.