Irdam Riani
Department of Fisheries Agribusiness, Faculty of Fisheries and Marine Science, Halu Oleo University.

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL PERIKANAN TUNA DI WILAYAH PENGELOLAAN PERIKANAN 714 (STUDI KASUS: PERIKANAN TUNA DI PROVINSI SULAWESI TENGGARA) La Ode Muhammad Yasir Haya; Nurhuda Annaastasia; Irdam Riani; Wa Ode Piliana; Ardiman Rusli; La Ode Muhammad Gunawan Giu; La Ode Muhammad Nunsyah; Arman Pariakan
Buletin Ilmiah Marina Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 12, No 1 (2026): JUNI 2026
Publisher : Research Center for Marine and Fisheries Socio-Economic

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/marina.v12i1.16986

Abstract

Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPP-NRI) 714 di Sulawesi Tenggara menjadi jantung perikanan tuna Indonesia, namun dihadapkan pada tantangan ketimpangan infrastruktur, akses permodalan, dan tata kelola perikanan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik sosial ekonomi nelayan Tuna, dan menganalisis kelayakan finansial perikanan Tuna di lokasi penelitian. Metode pengumpulan data primer menggunakan kuisioner terhadap nelayan, pengumpul, pengecer dan pengolah ikan. Selain itu, data sekunder diperoleh dari data di PPS Kendari, laporan dan studi literatur. Pengumpulan data dilakukan pada periode Januari s.d Juni 2023 dari 210 responden yang tersebar di tujuh lokasi Pangkalan Pendaratan Tuna (PPS, PPI Sodoaha, TPI Soropia, PPI Wameo, PPI Pasar Wajo, PPI Siompu, dan Wanci). Hasil studi menunjukkan adanya realitas sosial ekonomi yang timpang meskipun mayoritas nelayan berusia produktif (30-38 tahun) dan berpengalaman (10-13 tahun), tingkat pendidikan rendah (SD-SMP) dan beban keluarga (4-5 tanggungan) membatasi kapasitas adaptasi mereka. Analisis finansial mengungkap kisaran pendapatan bulanan yang lebar (Rp. 830,000–Rp. 4,750,000,-/bulan/orang), dengan Purse Seine sebagai alat tangkap paling menguntungkan (Rp. 570,000,000,-/tahun) di Kendari yang didukung infrastruktur memadai. Tempat kritis seperti Konawe menunjukkan IRR di bawah ambang kelayakan (8%) akibat lemahnya kelembagaan pemasaran. Penelitian merekomendasikan langkah strategis yaitu; pemerataan infrastruktur perikanan, perluasan akses permodalan inklusif, dan penguatan tata kelola perikanan terintegrasi.TITLE: ANALYSIS OF THE FINANCIAL VIABILITY OF TUNA FISHERIES IN INDONESIA FISHERIES MANAGEMENT AREA 714 (A CASE STUDY: TUNA FISHERIES IN SOUTHEAST SULAWESI)The State Fisheries Management Area of the Republic of Indonesia 714 in Southeast Sulawesi is the heart of Indonesia's tuna fishery, but it is faced with a complex challenge between ecological sustainability and economic pressures for fishermen. This study aims to analyze the socio-economic characteristics of Tuna fishermen, and analyze the financial feasibility of Tuna fisheries in research location. The primary data collection method uses questionnaires for fishermen, collectors, retailers and fish processors. In addition, secondary data was obtained from data at the Kendari PPS, reports and literature review. Data collection was carried out between January and June, 2023 on 210 respondents spread across seven Tuna Landing Base locations (PPS, PPI Sodoaha, TPI Soropia, PPI Wameo, PPI Pasar Wajo, PPI Siompu, and Wanci). The results of the study show that there is an unequal socio-economic reality even though the majority of fishermen are productive (30-38 years old) and experienced (10-13 years old), low level of education (SD-SMP) and family burden (4-5 dependents) limit their adaptation capacity. The results of the financial analysis revealed a wide range of monthly income (Rp.830,000–Rp.4.75 million/month/person), with Purse Seine as the most profitable fishing gear (Rp.570 million/year) in Kendari supported by adequate infrastructure. Critical places such as Konawe show an IRR below the eligibility threshold (8%) due to weak marketing institutions. This study recommends several urgent strategic steps for stakeholders, such as equitable distribution of fisheries infrastructure, providing inclusive access to capital, and integrated fisheries governance reform.