Perkembangan teknologi digital telah mengubah pola interaksi dalam keluarga dan menghadirkan fenomena technoference, yaitu gangguan interaksi interpersonal akibat penggunaan perangkat digital yang berlebihan. Fenomena ini berpotensi memengaruhi kualitas hubungan emosional antara orang tua dan anak, khususnya pada usia sekolah dasar yang merupakan fase penting dalam pembentukan kelekatan dan perkembangan sosial-emosional. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengalaman orang tua terkait technoference dalam pola asuh serta implikasinya terhadap interaksi emosional dengan anak usia sekolah dasar. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologi. Partisipan penelitian terdiri atas 13 orang tua yang memiliki anak usia 7–12 tahun dan berdomisili di Kota Yogyakarta. Pemilihan partisipan dilakukan melalui teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan dianalisis menggunakan metode fenomenologi Colaizzi. Hasil penelitian menunjukkan tiga tema utama, yaitu: (1) melemahnya ikatan emosional antara orang tua dan anak akibat berkurangnya kualitas interaksi tatap muka; (2) ambivalensi orang tua dalam penggunaan gawai yang ditandai oleh konflik antara tuntutan pekerjaan dan tanggung jawab pengasuhan; serta (3) munculnya strategi protektif berbasis kearifan lokal dan nilai religius, seperti makan bersama tanpa gawai, mendongeng, olahraga keluarga, shalat berjamaah, dan mengaji bersama. Temuan penelitian menunjukkan bahwa technoference tidak hanya berdampak pada kualitas hubungan emosional orang tua dan anak, tetapi juga mendorong keluarga mengembangkan berbagai strategi adaptif berbasis budaya dan religiusitas. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pengembangan kajian digital parenting dengan menegaskan pentingnya kearifan lokal dan nilai-nilai Islam sebagai faktor protektif dalam menghadapi tantangan pengasuhan di era digital.