Penelitian ini mengeksplorasi nilai-nilai budaya masyarakat Sumbawa yang bersumber dari falsafah adat barenti ko syara, syara barenti ko kitabullah, sepuluh prinsip saleng, dan leksikon Istana Dalam Loka, serta merumuskan potensinya sebagai sumber belajar IPS untuk mengembangkan kecerdasan budaya (cultural intelligence-CQ) peserta didik. Pendekatan kualitatif dengan tinjauan pustaka sistematis digunakan. Pencarian literatur dilakukan pada Google Scholar dan Garuda untuk periode 2015–2026. Dari 187 dokumen awal, 25 dokumen memenuhi kriteria inklusi (16 artikel jurnal terakreditasi, 5 disertasi/tesis, 3 buku, 1 peraturan daerah). Analisis mengikuti teknik analisis dokumen Bowen (2009) melalui tiga fase yaitu skimming, reading, dan interpretation, dengan pengodean pada lima unit analisis yaitu kata, frasa, konsep, narasi, dan praktik budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai budaya Sumbawa bukanlah CQ itu sendiri, melainkan sumber belajar potensial untuk mengembangkan keempat dimensi CQ. Musakara/tokal barema dan saleng satotang berpotensi mengembangkan CQ-Strategy; to, ila, kerik salamat, saleng pedi, saleng sayang berpotensi mengembangkan CQ-Knowledge; pamedi, saling sadu, saleng sakiki berpotensi mengembangkan CQ-Motivation; serta basiru, antat panulung, saleng tulung, saleng satingi, saleng jango, saleng beme, saleng santurit, tete gasa, alang kamutar berpotensi mengembangkan CQ-Behavior. Model konseptual pengintegrasian nilai CQ dirumuskan sebagai kerangka integrasi nilai budaya Sumbawa ke dalam materi, metode, dan evaluasi pembelajaran IPS. Disimpulkan bahwa kearifan lokal Sumbawa layak dijadikan sumber belajar IPS untuk mengembangkan kecerdasan budaya peserta didik.