This Author published in this journals
All Journal ALUCIO DEI
Raymond Hessel Stephen
Sekolah Tinggi Teologi Cianjur

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

KEPEMIMPINAN KRISTEN DI ERA POP CULTURE: FORMULASI TEOLOGI KONTEKSTUAL TERHADAP TRANSFORMASI SOSIAL DIGITAL Raymond Hessel Stephen; Yonatan Alex Arifianto
Alucio Dei Vol 10 No 2 (2026): Alucio Juni 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Duta Panisal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55962/aluciodei.v10i2.318

Abstract

Perubahan sosial dalam masyrakat digital yang ditandai oleh kemajuan teknologi digital, internet dan dominasi budaya populer telah memengaruhi paradigma berpikir serta praktik kehidupan beragama. Dinamika ini menghadirkan tantangan teologis ketika nilai-nilai iman harus berinteraksi dengan budaya yang berorientasi pada citra personal branding dan hiburan dalam konektivitas instan. Teologi kepemimpinan Kristen yang bersumber pada prinsip-prinsip alkitabiah perlu direfleksikan ulang agar tetap relevan di tengah masyarakat digital yang sarat dengan simbol dan narasi pop culture. Fenomena munculnya gereja digital, figur rohani di media sosial, serta transformasi komunikasi iman menunjukkan adanya perubahan signifikan dalam cara kepemimpinan Kristen dijalankan dan dipersepsikan. Penelitian ini bertujuan merumuskan formulasi teologi kontekstual yang mampu menjembatani antara nilai teologis klasik dengan realitas sosial digital kontemporer. Menggunakan metode kualitatif deskritif dengan pendekatan studi litertarure, maka dapat disimpulkan bahwa interaksi antara budaya populer dan transformasi sosial digital menuntut teologi yang kontekstual untuk memahami dinamika iman kontemporer. Paradigma kepemimpinan Kristen harus adaptif yang juga dialogis, serta berbasis relasi, memadukan otoritas spiritual dengan sensitivitas budaya digital. Model kepemimpinan kontekstual yang dihasilkan menekankan keteladanan yang berintegritas dalam iman, serta memiliki kemampuan memanfaatkan budaya populer sebagai sarana transformasi rohani dan sosial.