West Sumatran gambier (Uncaria gambir Roxb.) accounts for over 80 percent of global gambier supply, yet Indonesia's export volume dominance paradoxically coexists with a fragile competitive position in international markets. Using the Balassa RCA method with UN Comtrade data (HS 3201) covering 2014–2023, this study is the first to examine gambier competitiveness across the pre-, during-, and post-COVID-19 periods. Findings indicate that Indonesia's RCA index has not consistently exceeded the comparative advantage threshold (RCA > 1), revealing that volumetric dominance remains structurally decoupled from export efficiency, further compounded by the absence of a gambier-specific HS code that systematically weakens its pricing power globally. The study concludes that translating Indonesia's natural endowment into genuine market competitiveness requires integrated policy action: product standardization, a dedicated HS classification, and strategic market diversification beyond structural dependence on the Indian market. Keywords: gambier, comparative advantage, Revealed Comparative Advantage, Indonesia, export competitiveness Abstrak Gambir (Uncaria gambir Roxb.) merupakan komoditas perkebunan strategis yang menyumbang lebih dari 80 persen pasokan gambir dunia, dengan Sumatera Barat sebagai sentra produksi utama yang tidak tertandingi. Namun dominasi volume ekspor tersebut tidak serta-merta mencerminkan kekuatan daya saing Indonesia di pasar global. Penelitian ini menganalisis keunggulan komparatif gambir Indonesia menggunakan metode Revealed Comparative Advantage (RCA) Balassa dengan data UN Comtrade (HS 3201) periode 2014–2023, menjadikannya kajian pertama yang menangkap dinamika daya saing gambir sebelum, selama, dan pascapandemi COVID-19. Hasil analisis mengindikasikan bahwa nilai RCA gambir Indonesia belum konsisten melampaui ambang keunggulan komparatif (RCA > 1), menunjukkan bahwa dominasi pasokan global belum ditopang efisiensi struktural ekspor yang memadai. Kondisi ini diperparah oleh absennya kode HS spesifik gambir yang mendorong komoditas ini terklasifikasi dalam kategori generik dan memperlemah posisi tawar harga di pasar internasional. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penguatan daya saing gambir Indonesia menuntut intervensi kebijakan terintegrasi: standardisasi produk, penetapan HS code khusus gambir, dan diversifikasi pasar ekspor di luar ketergantungan struktural pada India. Kata kunci: gambir, keunggulan komparatif, Revealed Comparative Advantage, Indonesia, daya saing ekspor