Karsinoma sel skuamosa laring atau Laryngeal squamous cell carcinoma (LSCC) merupakan tantangan onkologi yang signifikan, terutama di negara berkembang seperti Indonesia, di mana pasien sering datang pada stadium lanjut karena faktor sosioekonomi yang kompleks dan keterlambatan diagnosis. Gejala awal, terutama suara serak yang persisten, seringkali salah diidentifikasi sebagai penyakit pernapasan kronis di fasilitas kesehatan tingkat pertama. Ilustrasi Kasus: Seorang laki-laki berusia 59 tahun datang dengan riwayat suara serak progresif dan gangguan pernapasan selama satu tahun. Meskipun telah melakukan beberapa kali kunjungan ke fasilitas kesehatan primer, kondisinya salah dikelola sebagai Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK). Evaluasi selanjutnya di pusat tersier mengungkapkan massa laring stadium T4N1M0. Pemeriksaan histopatologi mengonfirmasi karsinoma sel skuamosa konvensional dengan diferensiasi moderat. Pasien menjalani laringektomi total yang dikombinasikan dengan diseksi leher radikal modifikasi (MRND) bilateral untuk memastikan pembersihan onkologi radikal. Diskusi: Penatalaksanaan kanker laring stadium T4a memerlukan pendekatan bedah agresif untuk mengoptimalkan kontrol lokoregional dan kelangsungan hidup secara keseluruhan. Kasus ini menekankan dampak katastropik dari inersia diagnostik dan pentingnya mengenali tanda-tanda bahaya klinis seperti disfonia persisten. Selain itu, status HBsAg positif pasien memberikan pertimbangan prognostik khusus dan perlunya pemantauan perioperatif yang ketat untuk mencegah reaktivasi virus. Kesimpulan: Laringektomi total tetap menjadi standar definitif untuk LSCC stadium lanjut. Peningkatan luaran di negara berkembang memerlukan edukasi sistemik bagi penyedia layanan primer dan pembentukan jalur rujukan yang kuat untuk memfasilitasi diagnosis dini.