Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Penerapan Terapi Aktivitas Kelompok Range of Motion (ROM) Aktif untuk Meningkatkan Kekuatan Otot Lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Bondowoso Indonesia Tutus Mahardika Sukartono; Laily Nailul Farih; Kamilia Irdina; Muhammad Rafi’ Fikrul Hakim; Nur Lailatul Babarrohmah Arrosyidyiah; Ummi Malikal Balqis; Fahruddin Kurdi
DEDIKASI SAINTEK Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 1 (2026): April 2026
Publisher : Al-Hijrah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58545/djpm.v5i1.671

Abstract

Latar Belakang: Lansia dengan kondisi total care berisiko tinggi mengalami imobilisasi berkepanjangan yang dapat menyebabkan penurunan kekuatan otot, kekakuan sendi, dan penurunan kualitas hidup. Intervensi keperawatan mandiri seperti latihan Range of Motion (ROM) aktif diperlukan untuk mempertahankan fungsi muskuloskeletal dan mencegah komplikasi imobilisasi. Tujuan: Mengimplementasikan dan mengevaluasi efektivitas Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) ROM aktif dalam meningkatkan kekuatan otot lansia di PSTW Bondowoso. Metode: Kegiatan pengabdian ini menggunakan pendekatan deskriptif-evaluatif partisipatif. Sebanyak 7 lansia dengan kondisi total care di PSTW Bondowoso menjadi peserta. Intervensi TAK ROM aktif dilaksanakan 1 kali seminggu selama 2 minggu. Kekuatan otot diukur menggunakan Manual Muscle Testing (MMT) skala 0–5 sebelum dan setelah intervensi. Hasil: Evaluasi pascaintervensi menunjukkan peningkatan skor MMT pada sebagian besar peserta, terutama pada ekstremitas atas dan bawah. Lansia yang sebelumnya mengalami kelemahan otot ringan hingga sedang menunjukkan perbaikan tonus dan kemampuan kontraksi aktif setelah mengikuti rangkaian latihan. Kesimpulan: TAK ROM aktif terbukti efektif dan aman untuk meningkatkan kekuatan otot serta mendukung kemandirian fungsional lansia dengan kondisi total care. Program ini direkomendasikan untuk diintegrasikan ke dalam standar asuhan keperawatan rutin di fasilitas perawatan lansia.
Penerapan Terapi Aktivitas Kelompok Range of Motion (ROM) Aktif untuk Meningkatkan Kekuatan Otot Lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Bondowoso Indonesia Tutus Mahardika Sukartono; Laily Nailul Farih; Kamilia Irdina; Muhammad Rafi’ Fikrul Hakim; Nur Lailatul Babarrohmah Arrosyidyiah; Ummi Malikal Balqis; Fahruddin Kurdi
DEDIKASI SAINTEK Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 1 (2026): April 2026
Publisher : Al-Hijrah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58545/djpm.v5i1.671

Abstract

Latar Belakang: Lansia dengan kondisi total care berisiko tinggi mengalami imobilisasi berkepanjangan yang dapat menyebabkan penurunan kekuatan otot, kekakuan sendi, dan penurunan kualitas hidup. Intervensi keperawatan mandiri seperti latihan Range of Motion (ROM) aktif diperlukan untuk mempertahankan fungsi muskuloskeletal dan mencegah komplikasi imobilisasi. Tujuan: Mengimplementasikan dan mengevaluasi efektivitas Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) ROM aktif dalam meningkatkan kekuatan otot lansia di PSTW Bondowoso. Metode: Kegiatan pengabdian ini menggunakan pendekatan deskriptif-evaluatif partisipatif. Sebanyak 7 lansia dengan kondisi total care di PSTW Bondowoso menjadi peserta. Intervensi TAK ROM aktif dilaksanakan 1 kali seminggu selama 2 minggu. Kekuatan otot diukur menggunakan Manual Muscle Testing (MMT) skala 0–5 sebelum dan setelah intervensi. Hasil: Evaluasi pascaintervensi menunjukkan peningkatan skor MMT pada sebagian besar peserta, terutama pada ekstremitas atas dan bawah. Lansia yang sebelumnya mengalami kelemahan otot ringan hingga sedang menunjukkan perbaikan tonus dan kemampuan kontraksi aktif setelah mengikuti rangkaian latihan. Kesimpulan: TAK ROM aktif terbukti efektif dan aman untuk meningkatkan kekuatan otot serta mendukung kemandirian fungsional lansia dengan kondisi total care. Program ini direkomendasikan untuk diintegrasikan ke dalam standar asuhan keperawatan rutin di fasilitas perawatan lansia.
Pemberdayaan Lansia Melalui Tari Toron Ka Sabeh untuk Mendukung Kekuatan Otot, Keseimbangan, dan Mobilitas di UPT PSTW Jember Ummi Malikal Balqis; Agnestria Winarto; Rizkiyani Istifada; Lailiyatul Munawaroh; Latifa Aini Susumaningrum; Rewanda Azizah Tri Indriyani; Akhvi Eka Julia
DEDIKASI SAINTEK Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 2 (2026): Agustus 2026
Publisher : Al-Hijrah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58545/djpm.v5i2.972

Abstract

Penurunan kekuatan otot, gangguan keseimbangan, dan berkurangnya mobilitas fungsional meningkatkan kerentanan lansia terhadap jatuh dan hilangnya kemandirian. Program pengabdian ini mengembangkan Tari Toron Ka Sabeh sebagai aktivitas fisik adaptif berbasis budaya lokal bagi lansia di UPT PSTW Jember. Kegiatan bertujuan mendukung kekuatan otot, keseimbangan, dan mobilitas fungsional sekaligus memperkenalkan aktivitas yang menyenangkan dan berpotensi diintegrasikan ke kegiatan rutin institusi. Program dilaksanakan dalam enam sesi yang terdiri atas satu pre-test, empat sesi tari, dan satu post-test. Setiap sesi intervensi menggunakan penjelasan interaktif, demonstrasi dan re-demonstrasi, praktik gerak terbimbing, refleksi, serta pemantauan fisik. Evaluasi berpasangan dilakukan pada 18 lansia dengan data pre-test dan post-test lengkap untuk skor komposit Manual Muscle Testing (MMT) 12 komponen, Berg Balance Test (BBT) 14 item, dan Timed Up and Go (TUG). Rata-rata MMT meningkat dari 53,44 menjadi 55,67 dan median dari 54,00 menjadi 57,50; 10 peserta meningkat, lima tetap, dan tiga menurun. Rata-rata TUG membaik dari 15,11 menjadi 14,33 detik dan median dari 14,50 menjadi 13,00 detik, walaupun respons individual heterogen. Pada BBT, rata-rata menurun dari 49,94 menjadi 47,44, sedangkan median meningkat dari 51,50 menjadi 53,00. Uji Wilcoxon eksploratif tidak menunjukkan perubahan berpasangan yang signifikan secara statistik (seluruh p > 0,05). Temuan ini lebih tepat dipahami sebagai bukti kelayakan penerapan dan sinyal awal perubahan fungsi, bukan bukti efektivitas kausal. Program perlu dilanjutkan dengan durasi lebih panjang, progresi gerak individual, pemantauan berulang, dan pengukuran proses yang lebih lengkap.
Pemberdayaan Lansia Melalui Tari Toron Ka Sabeh untuk Mendukung Kekuatan Otot, Keseimbangan, dan Mobilitas di UPT PSTW Jember Ummi Malikal Balqis; Agnestria Winarto; Rizkiyani Istifada; Lailiyatul Munawaroh; Latifa Aini Susumaningrum; Rewanda Azizah Tri Indriyani; Akhvi Eka Julia
DEDIKASI SAINTEK Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 2 (2026): Agustus 2026
Publisher : Al-Hijrah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58545/djpm.v5i2.972

Abstract

Penurunan kekuatan otot, gangguan keseimbangan, dan berkurangnya mobilitas fungsional meningkatkan kerentanan lansia terhadap jatuh dan hilangnya kemandirian. Program pengabdian ini mengembangkan Tari Toron Ka Sabeh sebagai aktivitas fisik adaptif berbasis budaya lokal bagi lansia di UPT PSTW Jember. Kegiatan bertujuan mendukung kekuatan otot, keseimbangan, dan mobilitas fungsional sekaligus memperkenalkan aktivitas yang menyenangkan dan berpotensi diintegrasikan ke kegiatan rutin institusi. Program dilaksanakan dalam enam sesi yang terdiri atas satu pre-test, empat sesi tari, dan satu post-test. Setiap sesi intervensi menggunakan penjelasan interaktif, demonstrasi dan re-demonstrasi, praktik gerak terbimbing, refleksi, serta pemantauan fisik. Evaluasi berpasangan dilakukan pada 18 lansia dengan data pre-test dan post-test lengkap untuk skor komposit Manual Muscle Testing (MMT) 12 komponen, Berg Balance Test (BBT) 14 item, dan Timed Up and Go (TUG). Rata-rata MMT meningkat dari 53,44 menjadi 55,67 dan median dari 54,00 menjadi 57,50; 10 peserta meningkat, lima tetap, dan tiga menurun. Rata-rata TUG membaik dari 15,11 menjadi 14,33 detik dan median dari 14,50 menjadi 13,00 detik, walaupun respons individual heterogen. Pada BBT, rata-rata menurun dari 49,94 menjadi 47,44, sedangkan median meningkat dari 51,50 menjadi 53,00. Uji Wilcoxon eksploratif tidak menunjukkan perubahan berpasangan yang signifikan secara statistik (seluruh p > 0,05). Temuan ini lebih tepat dipahami sebagai bukti kelayakan penerapan dan sinyal awal perubahan fungsi, bukan bukti efektivitas kausal. Program perlu dilanjutkan dengan durasi lebih panjang, progresi gerak individual, pemantauan berulang, dan pengukuran proses yang lebih lengkap.