Pelayanan kesehatan primer memegang peranan strategis dalam sistem kesehatan nasional, namun efektivitasnya sangat bergantung pada bagaimana akses, pengelolaan penyakit, dan mekanisme rujukan saling berinteraksi dalam praktik nyata. Penelitian ini bertujuan menganalisis akses pelayanan kesehatan, klasifikasi penyakit, dan sistem rujukan di Puskesmas Sekaran, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang. Pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus digunakan dalam kerangka sosiologi kesehatan. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur terhadap pasien dan tenaga medis pada Mei 2026, dianalisis menggunakan teknik tematik dengan Model Perilaku Pemanfaatan Layanan Kesehatan Andersen sebagai kerangka teoritis utama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa akses ke Puskesmas Sekaran dinilai baik oleh masyarakat, didukung kemudahan administrasi, keramahan petugas, kedekatan lokasi, dan nol biaya bagi peserta BPJS/KIS. Penyakit tidak menular, khususnya hipertensi dan diabetes melitus, mendominasi kunjungan dan mencerminkan fenomena transisi epidemiologi yang tengah berlangsung di Indonesia. Sistem rujukan digital berbasis PIKER mempercepat koordinasi antarfasilitas bagi pasien BPJS, namun pasien non-BPJS tidak memiliki akses terhadap mekanisme rujukan formal tersebut, mengindikasikan stratifikasi akses berbasis status sosial-ekonomi. Dua persoalan struktural yang ditemukan adalah fragmentasi sistem pelaporan digital dan kesenjangan akses rujukan antara peserta dan non-peserta jaminan sosial. Dalam perspektif sosiologi kesehatan, puskesmas berfungsi sebagai institusi sosial yang menengahi hubungan antara negara, sistem kesehatan, dan masyarakat. Penguatan pelayanan kesehatan primer harus menyentuh akar ketimpangan struktural agar seluruh lapisan masyarakat dapat mengakses layanan secara penuh, setara, dan bermartabat.