Tradisi Mandi Balimau Kasai merupakan salah satu warisan budaya masyarakat Melayu yang masih dilestarikan di Desa Langgam, Kabupaten Pelalawan. Tradisi ini dilaksanakan menjelang bulan suci Ramadan sebagai bentuk persiapan diri secara lahir dan batin sekaligus sarana mempererat hubungan sosial masyarakat. Namun, perkembangan modernisasi menyebabkan sebagian generasi muda mulai kurang memahami makna simbolis yang terkandung dalam tradisi tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis makna simbolis yang terdapat dalam Tradisi Mandi Balimau Kasai serta relevansinya dalam kehidupan masyarakat Desa Langgam. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi yang melibatkan tokoh adat, tokoh masyarakat, serta masyarakat yang mengikuti tradisi Mandi Balimau Kasai. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap unsur dalam tradisi Mandi Balimau Kasai memiliki makna simbolis yang berkaitan dengan nilai-nilai kehidupan masyarakat Melayu. Limau dimaknai sebagai simbol penyucian diri lahir dan batin, kasai melambangkan persatuan dalam keberagaman, air melambangkan kesejukan hati dan pengendalian diri, sungai dimaknai sebagai simbol pembuangan sifat-sifat buruk dan pembaruan diri, sedangkan prosesi mandi bersama menjadi simbol kebersamaan serta silaturahmi. Makna-makna tersebut terbentuk melalui interaksi sosial yang diwariskan secara turun-temurun dan masih dipertahankan hingga saat ini. Temuan penelitian menunjukkan bahwa tradisi Mandi Balimau Kasai tidak hanya berfungsi sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai media pewarisan nilai religius, sosial, dan budaya yang berperan dalam memperkuat identitas masyarakat Melayu serta mendukung pelestarian budaya lokal di tengah arus globalisasi.