Language use in the border region between Central Sulawesi and South Sulawesi is strongly influenced by long-standing social, historical, and mobility-related dynamics within the community. This study aims to analyze patterns of language use in cross-cultural communication among the people of Mayoa Village, covering the domains of family, workplace, and public spaces, as well as to identify the factors that support its sustainability. This research employs a qualitative approach with a descriptive sociolinguistic design. The data consist of spoken utterances from community members of diverse ethnic backgrounds, including Bugis, Bare’e, and Pamona, collected through in-depth interviews and participant observation. Data sources include social interactions within families, economic activities in the marketplace, and communication within formal institutions. Data were collected using observation, note-taking, and interview techniques, and analyzed through an interactive model involving data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings reveal that border communities demonstrate a high and adaptive level of multilingual competence. Indonesian functions as a lingua franca in cross-ethnic communication, particularly in formal contexts such as education, governance, and public interaction due to its neutrality. Meanwhile, local languages such as Bugis, Bare’e, and Pamona remain actively used in family and community domains as symbols of identity, emotional closeness, and social solidarity. The phenomena of code-switching and code-mixing occur intensively in everyday interactions, reflecting speakers’ linguistic flexibility and contextual awareness. The main factors influencing these practices include kinship relations and interethnic marriages, socio-economic mobility, formal education, socio-religious environments, as well as the development of technology and social media. The study implies that linguistic diversity in border areas is not only maintained but also dynamically զարգ berkembang within a balanced language ecology, highlighting the importance of supporting multilingual education policies and the preservation of local languages. AbstrakPenggunaan bahasa di wilayah perbatasan antara Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan dipengaruhi secara kuat oleh kondisi sosial, historis, dan mobilitas masyarakat yang telah berlangsung lama. Penelitian ini betujuan untuk menganalisis pola penggunaan bahasa dalam komunikasi lintas budaya pada masyarakat Desa Mayoa, meliputi ranah keluarga, tempat kerja, dan ruang publik, serta mengidentifikasi faktor-faktor yang mendukung keberlangsungannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif sosiolinguistik. Data berupa tuturan lisan masyarakat dari berbagai latar etnis seperti Bugis, Bare’e, dan Pamona, yang diperoleh melalui wawancara mendalam dan observasi partisipatif. Sumber data mencakup interaksi sosial di lingkungan keluarga, aktivitas ekonomi di pasar, serta komunikasi dalam institusi formal. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui teknik simak, catat, dan wawancara, sedangkan analisis data menggunakan model interaktif yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat perbatasan memiliki kompetensi multibahasa yang tinggi dan adaptif. Bahasa Indonesia berfungsi sebagai lingua franca dalam komunikasi lintas etnis, terutama dalam konteks formal seperti pendidikan, pemerintahan, dan interaksi publik karena sifatnya yang netral. Sementara itu, bahasa daerah seperti Bugis, Bare’e, dan Pamona tetap digunakan secara aktif dalam ranah keluarga dan komunitas sebagai simbol identitas, kedekatan emosional, dan solidaritas sosial. Fenomena alih kode dan campur kode terjadi secara intensif dalam interaksi sehari-hari, mencerminkan fleksibilitas linguistik dan kesadaran kontekstual penutur. Faktor-faktor utama yang memengaruhi praktik ini meliputi hubungan kekerabatan dan perkawinan campuran, mobilitas sosial dan ekonomi, pendidikan formal, lingkungan sosial-keagamaan, serta perkembangan teknologi dan media sosial. Implikasi penelitian ini menunjukkan bahwa keberagaman bahasa di wilayah perbatasan tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang secara dinamis dalam suatu ekologi bahasa yang seimbang, sehingga penting untuk didukung melalui kebijakan pendidikan multibahasa dan pelestarian bahasa daerah.