Tuberculosis (tuberculosis/TB) remains a major public health problem in peripheral urban areas such as South Tangerang City. This study aims to map the spatial distribution patterns of TB across 54 sub-districts in South Tangerang City and to analyze its relationship with population density. The study employs an Exploratory Spatial Data Analysis (ESDA) approach using the Univariate Moran’s I and Local Indicators of Spatial Association (LISA) tests with GeoDa software, as well as the Spearman Rank correlation test using Stata. The results of the Moran’s I analysis show a value of 0.05802, indicating very weak positive spatial autocorrelation at the city-wide macro level. However, the local LISA analysis successfully identifies four sub-districts as hotspots (High–High) and two sub-districts as spatial outliers exhibiting contrasting characteristics with their surrounding areas. Furthermore, the Spearman Rank correlation test reveals that population density has no significant relationship with TB prevalence (p = 0.4158). These findings suggest that TB control policies cannot be based solely on macro-level population density but must instead focus on micro-scale spatial risk clusters and consider environmental and behavioral determinants. ABSTRAK Tuberkulosis (tuberculosis/TBC) masih menjadi masalah kesehatan utama di kawasan urban periferal seperti Kota Tangerang Selatan. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan pola persebaran spasial TBC pada 54 kelurahan di Kota Tangerang Selatan serta menganalisis hubungannya dengan kepadatan penduduk. Penelitian ini menggunakan pendekatan Exploratory Spatial Data Analysis (ESDA) melalui uji Univariate Moran’s I dan Local Indicators of Spatial Association (LISA) dengan perangkat GeoDa, serta uji korelasi Spearman Rank menggunakan Stata. Hasil analisis Moran’s I menunjukkan nilai indeks sebesar 0,05802 yang mengindikasikan adanya autokorelasi spasial positif sangat lemah pada tingkat makro kota. Namun, analisis lokal LISA berhasil mengidentifikasi empat kelurahan sebagai hotspot (High–High) serta dua kelurahan sebagai spatial outlier yang menunjukkan perbedaan karakteristik dengan wilayah sekitarnya. Selanjutnya, hasil uji korelasi Spearman Rank menunjukkan bahwa kepadatan penduduk tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan prevalensi TBC (p = 0,4158). Temuan ini menunjukkan bahwa intervensi kebijakan pengendalian TBC tidak dapat hanya didasarkan pada kepadatan penduduk secara makro, tetapi perlu diarahkan pada skala mikro melalui identifikasi klaster risiko lokal serta mempertimbangkan faktor lingkungan dan perilaku masyarakat.