Keterlibatan mahasiswa dalam kerja paruh waktu kini telah menjadi fenomena yang lumrah di lingkungan perguruan tinggi. Namun, aktivitas ganda ini kerap memicu dilema penyesuaian gaya hidup, konflik alokasi waktu, pemangkasan durasi tidur harian, hingga akumulasi stres yang berpotensi mengganggu capaian studi mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk menguji dan memodelkan pengaruh integratif dari status kerja paruh waktu, tingkat stres, durasi tidur harian, dan jam belajar mandiri terhadap performa akademik mahasiswa. Pendekatan kuantitatif eksplanatori diterapkan dengan menganalisis data sekunder terstruktur sebanyak 1.000 rekaman mahasiswa. Data diolah secara komprehensif menggunakan analisis regresi linear berganda dengan bantuan perangkat lunak IBM SPSS Statistics. Hasil pengujian secara simultan menunjukkan bahwa model gaya hidup ini memberikan kontribusi sebesar 61,2% (R2=0,612R^2 = 0,612R2=0,612) dalam menjelaskan fluktuasi nilai akademik mahasiswa. Secara parsial, durasi jam belajar harian (B=2,414;p<0,001B = 2,414; p < 0,001B=2,414;p<0,001) menjadi determinan positif paling dominan, diikuti oleh pemenuhan durasi tidur harian (B=1,663;p<0,001B = 1,663; p < 0,001B=1,663;p<0,001). Sebaliknya, tingkat stres terbukti memberikan dampak destruktif yang signifikan terhadap penurunan nilai mahasiswa (B=−1,465;p<0,001B = -1,465; p < 0,001B=−1,465;p<0,001). Menariknya, status kerja paruh waktu tidak memperlihatkan pengaruh signifikan secara langsung terhadap performa akademik (B=−0,271;p=0,590B = -0,271; p = 0,590B=−0,271;p=0,590). Penelitian ini menyimpulkan bahwa aktivitas kerja paruh waktu tidak serta-merta merusak capaian akademis mahasiswa secara langsung, melainkan kegagalan dalam melakukan manajemen stres dan kurangnya durasi istirahat biologislah yang memegang kendali penuh atas penurunan prestasi kognitif tersebut