Fenomena shalawatan Katolik di Jawa merupakan ekspresi nyata dari dialog antara iman dan budaya. Tradisi doa ini, yang berakar pada irama dan bahasa Jawa, mewujudkan bentuk inkulturasi liturgis Katolik yang kontekstual dan tetap terbuka terhadap kearifan lokal. Spiritualitas Katolik dengan demikian dapat dialami melalui shalawatan dan bentuk-bentuk doa berirama yang mendorong dialog antaragama dan antarbudaya. Shalawatan Katolik bukan sekadar adaptasi budaya, melainkan sebuah bentuk dialog spiritual yang mempertemukan iman Kristen, tradisi Islam, dan budaya Jawa. Melalui irama dan bahasa doa, umat beriman mengalami kedekatan dengan Allah yang hadir dalam kebersamaan dan keharmonisan. Pada saat yang sama, kajian ini tidak berasumsi bahwa inkulturasi semacam itu bebas dari masalah. Meskipun praktik ini secara luas dianggap sebagai bentuk inkulturasi yang positif, praktik ini juga menimbulkan ketegangan teologis, perdebatan internal gerejawi tentang batas-batas devosi, dan risiko untuk ditafsirkan sebagai sinkretisme. Cara komunitas Muslim sendiri memaknai praktik ini juga tetap menjadi pertanyaan terbuka, bukan sebuah kesimpulan yang pasti. Oleh karena itu, artikel ini memperlakukan keharmonisan yang dideskripsikan oleh para partisipan sebagai sebuah klaim yang perlu dikaji, termasuk batas-batasnya, dan bukan sebagai suatu kepastian yang sudah terbukti. Spiritualitas dialogis ini menunjukkan bahwa iman tidak perlu berada di atas budaya, melainkan dapat bertumbuh di dalamnya sebagai sebuah perjumpaan timbal balik, dengan tetap memperhatikan batas-batas teologis yang menyertai perjumpaan tersebut. Kontribusi utama artikel ini terletak pada eksplorasinya mengenai shalawatan Katolik sebagai ekspresi hidup dari spiritualitas dialogis dan inkulturasi liturgis dalam konteks budaya Jawa. Kajian ini menyoroti bahwa iman Katolik dapat diekspresikan secara autentik melalui bentuk-bentuk budaya lokal tanpa kehilangan identitas teologisnya. Selain itu, kajian ini mendemonstrasikan bagaimana doa berirama dan tradisi spiritual Jawa dapat menjadi jembatan bagi dialog antaragama, khususnya antara Kristen dan Islam, yang menumbuhkan keharmonisan, pengayaan bersama, dan pengalaman akan Allah yang lebih mendalam dalam kehidupan komunal. Kata Kunci: inkulturasi; spiritualitas Katolik; shalawatan; budaya Jawa; dialog antaragama. The phenomenon of Catholic shalawatan in Java represents a concrete expression of dialogue between faith and culture. This prayer tradition, rooted in Javanese rhythms and language, embodies a contextual form of Catholic liturgical inculturation that remains open to local wisdom. Catholic spirituality can thus be experienced through shalawatan and rhythmic forms of prayer that foster interreligious and intercultural dialogue. Catholic shalawatan is not merely a cultural adaptation, but a form of spiritual dialogue that brings together the Christian faith, Islamic traditions, and Javanese culture. Through the rhythm and language of prayer, believers experience closeness to God, who is present in togetherness and harmony. At the same time, this study does not assume that such inculturation is unproblematic. Although the practice is widely regarded as a positive form of inculturation, it also raises theological tensions, internal ecclesial debate about the boundaries of devotion, and the risk of being read as syncretism. The way Muslim communities themselves perceive the practice likewise remains an open question rather than a settled outcome. This article therefore treats the harmony described by participants as a claim to be examined, including its limits, rather than as a foregone conclusion. This dialogical spirituality suggests that faith need not stand above culture, but may grow within it as a mutual encounter, while remaining attentive to the theological boundaries that such encounters entail. The main contribution of this article lies in its exploration of Catholic shalawatan as a living expression of dialogical spirituality and liturgical inculturation within the Javanese cultural context. The study highlights that Catholic faith can be authentically expressed through local cultural forms without losing its theological identity. Furthermore, it demonstrates how rhythmic prayer and Javanese spiritual traditions can become a bridge for interfaith dialogue, particularly between Christianity and Islam, fostering harmony, mutual enrichment, and a deeper experience of God within communal life.