Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENYULUHAN PENCEGAHAN ANEMIA PADA REMAJA: REMAJA SEHAT GENERASI KUAT TANPA ANEMIA Siti Hajrianti; Theresia Shella Beredikta
Bagimu Negeri Vol 10 No 01 (2026)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Pringsewu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52657/bagimunegeri.v10i01.3634

Abstract

Anemia merupakan kondisi defisiensi hemoglobin di bawah ambang normal (WHO: <12 g/dL pada remaja putri 15-18 tahun, <13 g/dL pada putra), yang mengganggu transportasi oksigen ke jaringan dan menimbulkan gejala seperti kelelahan, pucat, serta penurunan konsentrasi. Di Indonesia, prevalensi anemia pada remaja mencapai 32% (perempuan) dan 20% (laki-laki) berdasarkan Riskesdas 2018, serta 15-16% pada remaja putri usia 10-24 tahun menurut SKI 2023, terutama disebabkan anemia defisiensi besi akibat asupan zat besi rendah, menstruasi berlebih, pola makan tidak teratur, infeksi cacing, dan penghambat penyerapan seperti teh/kopi. Dampaknya meliputi penurunan prestasi akademik, produktivitas fisik, imunitas, serta risiko kesehatan reproduksi jangka panjang seperti kelahiran prematur. Pencegahan efektif mencakup konsumsi makanan kaya zat besi heme/non-heme, vitamin C pendukung, tablet tambah darah (TTD) mingguan, pola makan dan edukasi kesehatan melalui sekolah/media sosial. Tinjauan ini menekankan intervensi holistik untuk mengurangi beban anemia pada remaja Indonesia.
PENYULUHAN PENCEGAHAN ANEMIA PADA REMAJA: REMAJA SEHAT GENERASI KUAT TANPA ANEMIA Siti Hajrianti; Theresia Shella Beredikta
Bagimu Negeri Vol 10 No 01 (2026)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Pringsewu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52657/bagimunegeri.v10i01.3634

Abstract

Anemia merupakan kondisi defisiensi hemoglobin di bawah ambang normal (WHO: <12 g/dL pada remaja putri 15-18 tahun, <13 g/dL pada putra), yang mengganggu transportasi oksigen ke jaringan dan menimbulkan gejala seperti kelelahan, pucat, serta penurunan konsentrasi. Di Indonesia, prevalensi anemia pada remaja mencapai 32% (perempuan) dan 20% (laki-laki) berdasarkan Riskesdas 2018, serta 15-16% pada remaja putri usia 10-24 tahun menurut SKI 2023, terutama disebabkan anemia defisiensi besi akibat asupan zat besi rendah, menstruasi berlebih, pola makan tidak teratur, infeksi cacing, dan penghambat penyerapan seperti teh/kopi. Dampaknya meliputi penurunan prestasi akademik, produktivitas fisik, imunitas, serta risiko kesehatan reproduksi jangka panjang seperti kelahiran prematur. Pencegahan efektif mencakup konsumsi makanan kaya zat besi heme/non-heme, vitamin C pendukung, tablet tambah darah (TTD) mingguan, pola makan dan edukasi kesehatan melalui sekolah/media sosial. Tinjauan ini menekankan intervensi holistik untuk mengurangi beban anemia pada remaja Indonesia.