This study examines the participation of the NU organization in Central Lampung Regency in developing science through digital publications. The focus of the study includes forms, patterns, theological foundations, and strategies for optimizing participation. This study is based on the assumption that Islam has great potential to inspire a knowledgeable society. The approach used is qualitative-phenomenological, with data collection techniques including focus groups (FGDs), interviews, observation, and documentation. Data were analyzed through data reduction, presentation, and conclusion drawing. The results indicate that NU's digital participation encompasses three main forms: the production of science-based Islamic knowledge, dissemination through digital media, and collaboration across scientific networks. The pattern of participation evolves from awareness, initiation, and evaluation. This participation reflects a shift in religious authority from a hierarchical structure to a collaborative and adaptive network model. Phenomenologically, this participation is driven by religious awareness as a manifestation of the caliph's responsibility in building a scientific civilization. NU's theological approach involves the bayani, burhani, and irfani methods, emphasizing the preservation of intellectual traditions. This research emphasizes the importance of integrating Islamic values, scientific literacy, government regulations, and ongoing evaluation in strengthening religious digital communities. This implies the need for policies that support the digital capacity of religious groups and the development of contextual and local value-based participation models. Abstrak Penelitian ini mengkaji partisipasi organisasi Nahdlatul Ulama (NU) di Kabupaten Lampung Tengah dalam pengembangan ilmu pengetahuan melalui publikasi digital. Fokus kajian meliputi bentuk, pola, landasan teologis, serta strategi optimalisasi partisipasi organisasi NU. Penelitian ini didasarkan pada asumsi bahwa Islam memiliki potensi besar untuk menginspirasi lahirnya masyarakat berpengetahuan. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif-fenomenologis, dengan teknik pengumpulan data berupa diskusi kelompok terarah (FGD), wawancara, observasi, dan dokumentasi. Data dianalisis melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa partisipasi digital NU mencakup tiga bentuk utama, yaitu produksi pengetahuan keislaman berbasis sains, diseminasi melalui media digital, serta kolaborasi dalam jaringan keilmuan. Pola partisipasi berkembang melalui tahapan kesadaran, inisiasi, dan evaluasi. Partisipasi ini mencerminkan pergeseran otoritas keagamaan dari struktur hierarkis menuju model jejaring yang kolaboratif dan adaptif. Secara fenomenologis, partisipasi tersebut digerakkan oleh kesadaran religius sebagai manifestasi tanggung jawab khalifah dalam membangun peradaban ilmu pengetahuan. Pendekatan teologis NU melibatkan metode bayani, burhani, dan irfani yang menekankan pelestarian tradisi intelektual. Penelitian ini menegaskan pentingnya integrasi nilai-nilai Islam, literasi saintifik, regulasi pemerintah, serta evaluasi berkelanjutan dalam memperkuat komunitas keagamaan digital. Implikasi penelitian ini menunjukkan perlunya kebijakan yang mendukung penguatan kapasitas digital kelompok keagamaan serta pengembangan model partisipasi yang kontekstual dan berbasis nilai-nilai lokal.