Efisiensi energi pada proses evaporasi crude glycerin merupakan aspek penting yang berpengaruh terhadap biaya produksi dan kinerja lingkungan di PT XYZ. Perusahaan telah mengimplementasikan Advanced Process Control (APC) berbasis Model Predictive Control untuk meningkatkan stabilitas dan efisiensi proses. Namun, pemanfaatan APC belum optimal akibat rendahnya utilisasi, fluktuasi kualitas produk, serta keterbatasan sistem monitoring kinerja yang masih bersifat manual. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi akar penyebab penurunan kinerja operasional APC serta mengevaluasi dampak integrasi APC dengan Process Information Management System (PIMS). Metode Fishbone Diagram dan Pareto Diagram digunakan untuk menentukan faktor dominan penyebab permasalahan berdasarkan aspek manusia, metode, mesin, material, dan lingkungan. Data diperoleh dari histori operasional, kuesioner skala Likert 1–7, serta diskusi teknis dengan tim terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor manusia menjadi penyebab utama penurunan kinerja APC, khususnya rendahnya pemahaman operator dan ketiadaan monitoring real-time terhadap Dashboard KPI yang mencakup aspek kualitas dan utilitas. Integrasi APC–PIMS dan pengembangan Daily Dashboard KPI menghasilkan penurunan ratio steam-to-feed sebesar 0,01Ton steam/ton feed, peningkatan utilisasi APC sebesar 48% menjadi rata-rata 95%, konsistensi kualitas produk, penghematan energi serta penurunan emisi CO2. Penelitian ini membuktikan bahwa integrasi sistem yang dilakukan dan penguatan aspek manajerial berperan signifikan dalam meningkatkan kinerja APC secara berkelanjutan. Kata kunci: Evaporasi, Advanced Process Control (APC), Process Information and Management System (PIMS), Fishbone Diagram, Diagram Pareto