Pelabelan al-Kashshaf karya al-Zamakhsyari sebagai tafsir sektarian (Mu‘tazilah) selama ini didominasi oleh klasifikasi teologis-dogmatis Ignaz Goldziher yang cenderung mengabaikan konteks sosial-politik di mana karya tersebut diproduksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap motif sosial-politik di balik penafsiran al-Zamakhsyari serta meninjau ulang validitas label sektarian tersebut. Dengan pendekatan kualitatif berbasis studi kepustakaan, penelitian ini menggunakan Analisis Wacana Kritis (Critical Discourse Analysis) dari Norman Fairclough yang mencakup tiga dimensi: analisis teks (fitur linguistik, pilihan kata, dan struktur argumentasi), praktik diskursif (produksi, distribusi, dan konsumsi teks), serta praktik sosial (hegemoni, relasi kuasa, dan ideologi di Khwarezm abad ke-12). Hasil analisis menunjukkan bahwa penafsiran al-Zamakhsyari bukan sekadar artikulasi dogmatis teologi Mu‘tazilah, melainkan respons strategis terhadap kondisi sosial-politik yang fluktuatif di bawah Dinasti Seljuk dan Khwarazmshah. Melalui pilihan leksikal yang cermat (misalnya tab‘īḍ, umarā’ al-jawr), format tanya-jawab, serta kutipan intertekstual dari otoritas salaf, al-Zamakhsyari membangun wacana yang mengkritik penguasa zalim, mempersyaratkan ketaatan kepada kepemimpinan yang sah, serta mendorong meritokrasi berbasis ilmu dan keadilan. Dengan demikian, label sektarian terbukti reduksionis karena al-Kashshaf berfungsi sebagai bentuk perlawanan intelektual dan kritik sosial-politik. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pengakuan terhadap motif sosial-politik di balik tafsir klasik sangat penting untuk melampaui kategorisasi sektarian yang simplistis.